Mengenal Gus Nafi’ul Waro Sosok yang Cerdas asal Trenggalek

Gus Zahro bersama Gus Nafi' saat Haji 2025 silam bersama Gus Zahro. (Dokumen Pribadi)
Gus Zahro bersama Gus Nafi' saat Haji 2025 silam bersama Gus Zahro. (Dokumen Pribadi)

LINTASJATIM.com, Trenggalek – Pekan ini Nahdliyyin Trenggalek kehilangan sosok kader yang cerdas dalam keilmuan agama. Ialah Agus H Nafi’ul Waro, Wakil Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Trenggalek memenuhi panggilanNya.

Kakak Ipar sekaligus Wakil Syuriah PCNU Trenggalek, KH Zahro Wardi mengungkapkan bahwa sosok Gus Nafi’ul Waro adalah pribadi yang cerdas. Kecerdasan beliau tampak sejak mondok di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien (PPHM) Lirboyo Kediri.

Bacaan Lainnya

“Gus Nafi’ (GN) itu anak yg cerdas. Betul-betul cerdas,” ujar KH Zahro Wardi kepada penulis saat dikonfirmasi, Kamis (12/3/2026).

Gus Zahro menerangkan GN pertama masuk PP Lirboyo ditahun 1997. Sebelumnya pernah mondok sebentar di Pondok Darussalam Jajar. Dimana saat itu Gus Zahro tamat tingkat aliyah atau jenjang terakhir di Madrasah MHM Lirboyo

“Kebetulan saya diberi kesempatan memulai berkhidmah diangkat sebagai pengajar SP Sekolah Persiapan MHM Lirboyo,” tambahnya.

Kiai yang juga Anggota Komisi Fatwa MUI Jatim ini menerangkan GN tamat MHM Lirboyo pada tahun 2006. Langsung pulang, tidak melanjutkan khidmah namun pulang untuk menikah.

Gus Zahro melanjutkan pernah satu asrama dan satu kamar. Sekalipun Gus Zahro sangat senior atau usia terpaut 11 tahun, sering ngopi kongkow bersama. Tidak jarang kalau ada pelajaran yang musykil, almarhum bertanya kepadanya.

“Ia memanggil saya Mbah. panggilan saya saat itu mengikuti cara manggil kebanyakan teman karena faktor tertentu. Tak mengira tak menyangka, kelak akhirnya menjadi kakak saya,” ulasnya.

Awal-awal mondok, kecerdasan GN lebih tertutupi dgmengan kebandelan beliau. Sehingga menurut Gus Zahro apabila sudah tidur sulit dibangunkan. Jarang mandi, berpakaian apa adanya.

“Padahal saat itu seingat saya abahnya sudah mapan secara ekonomi. Bahkan sudah berkidmah di NU sebagai Katib Syuriah PCNU sekaligus pengasuh pondok pesantren,” terangnya.

Pejuang Ilmu yang Gigih-Bertanggung Jawab

Beliau juga mengenang sosok almarhum sebagai pribadi yang memiliki semangat belajar luar biasa dan dedikasi tinggi terhadap umat. Menurut Gus Zahri, potensi intelektual GN mulai menonjol saat menempuh pendidikan di jenjang Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

Di Pondok Pesantren Lirboyo, almarhum dipercaya memegang peran strategis dalam kegiatan akademis santri.

“Kecerdasannya mulai tampak saat beranjak dewasa. Beliau dipercaya memegang pelajaran utama di kelasnya dalam kegiatan musyawarah harian, atau di Lirboyo dikenal dengan istilah Rois Musyawarah lokal kelas,” ujarnya.

Selain cerdas dalam ilmu fikih dan alat, Gus Nafi’ juga dikenal memiliki kefasihan luar biasa dalam membaca Al-Qur’an. Hal ini, menurut Kiai Zahro, merupakan buah dari didikan sang ayah yang merupakan seorang pengajar tahsin sekaligus qari andal.

Gus Nafi’ bahkan sempat berupaya menghafalkan Al-Qur’an (tahfidz), meski kemudian ia lebih fokus pada pengabdian lainnya.

Dedikasi Tanpa Lelah

Selama bersama-sama mengelola pondok pesantren, Gus Nafi’ dikenal sebagai sosok yang mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain. Ia menyadari sepenuhnya bahwa keberlangsungan pondok berada di pundaknya.

“Selama membesarkan pondok pesantren di rumah, beliau sangat bersemangat dan bertanggung jawab. Selagi masih mampu, semua urusan ditangani sendiri seakan tidak ingin merepotkan orang lain,” kenangnya.

Kerja keras tersebut juga terlihat dari kiprahnya di berbagai organisasi dan instansi. Di usia 44 tahun saat dipanggil oleh Allah SWT, Gus Nafi’ tercatat mengemban sejumlah amanah penting, di antaranya:

  • Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Penyuluh Agama
  • Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Trenggalek
  • Ketua Aswaja Center Trenggalek

Gus Zahro juga menggarisbawahi semangat Gus Nafi’ dalam mengejar ilmu formal maupun nonformal. Di tengah kesibukan berumah tangga dan mengurus pesantren, almarhum tetap menuntaskan studi S2 di usia kepala empat.

Hal ini dibuktikan dengan tumpukan piagam dan sertifikat yang tersimpan rapi sebagai bukti kegigihannya. Tidak mengenal usia, jiwa untuk terus belajar tidak pernah padam.

“Beliau memiliki semangat yang luar biasa untuk sukses. Di usia 40-an tahun, beliau masih menyempatkan berkuliah S2 sampai lulus dan mengikuti puluhan pelatihan, mulai dari perhajian, DSN MUI, perwakafan, hingga zakat,” ungkapnya.

Kenangan Haji 2025 dan Perpisahan Terakhir

Momen yang paling membekas bagi Kiai Zahro adalah kedekatan emosional mereka yang sudah dianggap seperti satu keluarga. Mereka sering berangkat bersama dalam setiap kegiatan NU, terkadang bertiga dengan Rois Syuriah.

Puncaknya, pada tahun 2025, keduanya mendapatkan panggilan untuk menunaikan ibadah haji bersama. KH Zahro menyebutkan bahwa mulai dari persiapan, pelaksanaan di tanah suci, hingga acara selamatan di rumah, mereka lalui secara bersama-sama.

“Selamat jalan Sang Pejuang Ilmu dan Agama. Perjuanganmu tidak akan sia-sia,” pungkas KH Zahro dengan nada haru.

Gus Nafi’ul Waro meninggalkan seorang putra dan warisan pengabdian yang luas bagi masyarakat Trenggalek, khususnya di lingkungan warga nahdliyin. Semoga semangat beliau dalam menuntut ilmu dan berkhidmah di Nahdlatul Ulama bisa menjadi tauladan umat. Lahul Faatihah.

Pos terkait