LINTASJATIM.com, Tulungagung – Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor (MDS RA) Tulungagung menggelar Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Dirosah Ula di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien (PPHM) Asrama Sunan Muria, Ngunut. Kegiatan ini difokuskan untuk mencetak kader yang siap berdakwah di tengah masyarakat.
Ketua MDS RA Tulungagung, Agus Muhammad Fahmi Arafat, mengatakan kaderisasi ini menjadi langkah strategis untuk mewadahi alumni pesantren agar tetap aktif dalam dakwah setelah kembali ke masyarakat.
“Rijalul Ansor ke depan diharapkan menjadi rumah besar bagi alumni santri, sehingga mereka bisa didistribusikan sesuai potensi masing-masing,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, kader dengan latar belakang keilmuan agama dapat diarahkan ke pesantren atau madrasah, sementara lulusan perguruan tinggi bisa berkontribusi di lembaga pendidikan seperti LP Ma’arif NU.
Adapun kader yang memiliki minat di bidang bahtsul masail maupun dakwah akan dibina melalui lembaga terkait di lingkungan NU.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga bertujuan menghidupkan kembali ruang-ruang dakwah yang mulai tergerus, sekaligus mengoptimalkan gerakan dakwah yang bermanfaat bagi masyarakat.
Antusiasme peserta terbilang tinggi. Dari 117 pendaftar, sebanyak 110 peserta hadir secara langsung. Jumlah tersebut disebut sebagai salah satu yang terbesar untuk kegiatan serupa di Jawa Timur.
Peserta tidak hanya berasal dari Tulungagung, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Blitar, Lumajang, Banyumas, hingga luar Pulau Jawa, yakni OKU, Sumatera.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh dan narasumber, di antaranya KH Anim Falahuddin Mahrus dan Gus Ahmad Kafabihi dari Pondok Pesantren Lirboyo, KH Ahmad Tamim, Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Prof. Abdul Aziz, serta KH Abdussalam Shohib dari Pondok Pesantren Denanyar.
Keberhasilan kegiatan juga didukung kolaborasi berbagai jaringan alumni pesantren, seperti Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal), Himpunan Alumni Mambaul Ma’arif (Himah), Ikatan Mutakharijin Al-Falah Ploso (IMAP), serta alumni Pondok Ngunut.
Fahmi menegaskan bahwa kaderisasi merupakan fondasi utama organisasi, khususnya bagi GP Ansor dan Rijalul Ansor dalam menjaga keberlanjutan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
“Ansor hari ini adalah masa depan NU. Karena itu, kaderisasi harus mampu melahirkan pemimpin baru yang lebih baik,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, MDS RA Tulungagung akan memperkuat kolaborasi melalui nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah lembaga NU, di antaranya Lembaga Bahtsul Masail (LBM), LP Ma’arif NU, Lembaga Takmir Masjid (LTM), Lembaga Dakwah NU (LDNU), serta Aswaja NU Center.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat struktur organisasi sekaligus mengoptimalkan gerakan dakwah di tengah masyarakat. (jaz/red)





