Peternak Muda Blitar Bertahan di Tengah Fluktuasi Harga Pakan

Wafa, Peternak Muda yang Bertahan dengan Prinsip Tidak Neko-neko.
Wafa, Peternak Muda yang Bertahan dengan Prinsip Tidak Neko-neko.

LINTASJATIM.com, Blitar – Wafa Bahrul Nabawai (27), peternak ayam petelur asal Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, tetap mampu menjaga stabilitas usahanya di tengah fluktuasi harga pakan dalam beberapa bulan terakhir.

Ia mengungkapkan, kenaikan harga jagung dan konsentrat sebagai bahan utama pakan cukup memengaruhi biaya produksi. Meski demikian, usaha yang dijalankannya masih mampu bertahan.

“Masih nutup, dan masih ada untung,” ujar Wafa, Rabu (25/3/2026).

Di tengah kondisi harga telur yang tidak menentu, Wafa memilih bersikap hati-hati dalam mengelola keuangan. Ia menghindari pengeluaran yang tidak penting meskipun harga telur sedang relatif baik.

“Sekarang harga bagus, tapi tetap harus jaga-jaga. Tidak beli yang aneh-aneh, tetap pakai yang ada,” katanya.

Menurutnya, kondisi sulit telah dirasakan sejak akhir 2023, ketika harga jual telur kerap tidak sebanding dengan biaya produksi. Situasi tersebut membuatnya lebih selektif dalam memilih bahan baku pakan, terutama kualitas jagung yang dinilai sangat berpengaruh terhadap hasil produksi.

“Yang penting kualitas jagung bagus, itu sangat berpengaruh ke hasil,” ungkapnya.

Selain itu, Wafa juga memperhatikan pola distribusi penjualan. Ia memilih jalur distribusi yang lebih aman, meskipun dengan harga standar, asalkan pembayaran dapat diterima dengan cepat.

“Saya pilih yang standar saja, tapi cepat cair,” ujarnya.

Untuk pemasaran, Wafa masih mengandalkan jaringan pembeli lama dan transaksi langsung. Produksi telur dari usahanya mencapai sekitar 210 kilogram setiap tiga hari.

Ia mengaku sempat mencoba memanfaatkan media sosial untuk promosi, namun belum sepenuhnya beralih ke sistem penjualan daring.

“Masih mempertahankan yang sudah ada,” katanya.

Sebagai peternak muda, Wafa menilai sektor peternakan masih memiliki peluang besar selama dijalani dengan kesungguhan dan tanpa gengsi.

“Yang penting kerja jalan dan menghasilkan. Panas tidak masalah, nuruti gengsi tidak makan nasi,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dan kesiapan dana darurat dalam menjalankan usaha peternakan, mengingat kebutuhan pakan harus selalu terpenuhi setiap hari.

“Pagi siang ayam harus makan, jadi harus siap dana darurat,” tegasnya.

Wafa mengingatkan agar keuntungan usaha tidak langsung dihabiskan untuk kebutuhan konsumtif, melainkan digunakan untuk memperkuat keberlanjutan usaha.

“Kalau ada untung, jangan langsung dibelikan yang tren. Yang penting usaha tetap kuat,” pungkasnya.

Pos terkait