LINTASJATIM.com, Bondowoso – UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember bersama Universitas At-Taqwa Bondowoso memperkuat kolaborasi dalam merumuskan strategi pengembangan perguruan tinggi Islam menuju standar World Class University melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk ‘Toward A Sustainable World Class University Framework: Comparison of Islamic Higher Education Policies’.
Kegiatan yang berlangsung di Meeting Room Pascasarjana Universitas At-Taqwa Bondowoso, Sabtu (27/6/2026), itu merupakan tindak lanjut kunjungan akademik kedua perguruan tinggi ke Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) pada 24 Juni 2026.
Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari kebijakan pengelolaan pendidikan tinggi Islam yang telah mengantarkan USIM meraih pengakuan internasional.
FGD menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. H. Abd. Muhith, M.Pd.I. dari UIN KHAS Jember dan Dr. Suheri, M.Pd.I., dosen Universitas At-Taqwa Bondowoso yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bondowoso.
Forum tersebut membahas sejumlah isu strategis, mulai dari penguatan tata kelola perguruan tinggi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, internasionalisasi kampus, pengembangan riset dan publikasi bereputasi internasional, hingga modernisasi layanan akademik berbasis digital.
Dr. Suheri menegaskan bahwa mewujudkan World Class University tidak cukup hanya mengejar peringkat atau pengakuan internasional. Menurutnya, transformasi harus diawali dengan pembenahan sistem, budaya akademik, dan tata kelola institusi.
“World Class University bukan sekadar label atau peringkat internasional. Yang lebih penting adalah bagaimana perguruan tinggi mampu membangun sistem akademik yang berkualitas, tata kelola yang baik, riset yang produktif, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, hasil studi di USIM harus menjadi inspirasi untuk melahirkan kebijakan yang sesuai dengan karakter perguruan tinggi Islam di Indonesia,” ujarnya.
Suheri menilai kolaborasi antara UIN KHAS Jember dan Universitas At-Taqwa Bondowoso menjadi langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi Islam sekaligus memperkuat daya saing institusi di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, tantangan pendidikan tinggi saat ini tidak dapat dijawab oleh satu institusi secara mandiri. Karena itu, diperlukan jejaring, kolaborasi, dan pertukaran gagasan agar perguruan tinggi mampu berkembang secara berkelanjutan.
“Kolaborasi antarkampus menjadi kebutuhan pada era global. Tidak ada perguruan tinggi yang bisa berkembang sendiri. Dengan berbagi pengalaman, memperkuat riset bersama, dan menyusun kebijakan secara kolaboratif, kita memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan daya saing pendidikan tinggi Islam hingga tingkat internasional,” katanya.
Ia menambahkan, hasil studi di USIM tidak akan diterapkan secara langsung, melainkan dijadikan referensi dalam menyusun model pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik perguruan tinggi Islam di Indonesia.
Melalui forum tersebut, para peserta diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang realistis, adaptif, dan dapat diimplementasikan secara bertahap di masing-masing institusi.
“Harapan kami, forum ini menghasilkan langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan dalam penguatan mutu akademik, pengembangan sumber daya manusia, internasionalisasi kampus, serta peningkatan kualitas layanan pendidikan. Dengan demikian, cita-cita menuju perguruan tinggi Islam yang modern, adaptif, dan berdaya saing global dapat diwujudkan secara bertahap,” pungkasnya.
Melalui FGD ini, UIN KHAS Jember dan Universitas At-Taqwa Bondowoso berharap dapat menyusun kerangka kebijakan sebagai pijakan transformasi kelembagaan sekaligus memperkuat sinergi antarkampus dalam mewujudkan perguruan tinggi Islam yang unggul, inovatif, dan berdaya saing di tingkat dunia. (Rif)





