Api Bromo Belum Bisa Hujan Buatan

Wagub Emil pantau kebakaran Gunung Bromo. Sumber foto: www.detik.com
Wagub Emil pantau kebakaran Gunung Bromo. Sumber foto: www.detik.com

LINTASJATIM.com, Probolinggo – Upaya memadamkan kebakaran kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih mengandalkan water bombing. Modifikasi cuaca belum dapat dilakukan karena kondisi awan belum mendukung.

Dikutip dari detikJatim.com, kebakaran yang berlangsung sejak Senin (3/8/2026) itu telah menghanguskan sekitar 500 hektare lahan hutan. Luasan tersebut masih berpotensi bertambah apabila titik api belum sepenuhnya terkendali.

Bacaan Lainnya

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan Pemprov Jatim sebenarnya mempertimbangkan modifikasi cuaca untuk memicu hujan di sekitar Bromo. Namun, metode tersebut membutuhkan keberadaan awan yang memenuhi syarat untuk disemai.

“Jadi kalau modifikasi cuaca menciptakan hujan mungkin ya, itu saat ini terus terang belum menjadi fokus kita. Karena awan-awan yang bisa disemai untuk menjadi hujan ini juga belum teridentifikasi,” kata Emil, Minggu (9/8/2026).

Menurut Emil, keberadaan awan di wilayah Malang belum cukup menjadi dasar pelaksanaan modifikasi cuaca. Awan harus berada pada kondisi matang dan tersebar di area yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.

“Kita butuh awan yang cukup matang untuk kemudian disemai. Nah, di atas ini meskipun di Malang itu ada awan, tapi harus ada awan-awan di sekitar sini yang kemudian dibuat supaya dia bisa hujan. Nah, ini kondisi belum ada saat ini, jadi fokusnya water bombing,” ujarnya.

Emil menjelaskan modifikasi cuaca juga tidak dapat digunakan untuk mengubah arah angin. Karena itu, metode tersebut tidak dapat serta-merta diterapkan untuk menghentikan pergerakan api.

“Angin tidak bisa dimodifikasi, sayangnya. Yang bisa dimodifikasi cuaca itu biasanya adalah memindahkan hujan misalnya. Atau kemudian kalau memang ingin mengatasi kebakaran, ya pakai tekniknya namanya water bombing,” katanya.

Di tengah proses pemadaman, pemerintah juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan api bergerak mendekati permukiman. Pemetaan wilayah rawan telah dilakukan, termasuk kawasan sekitar Puncak B29.

Emil menyebut kawasan tersebut menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian lebih. Kendati belum diperlukan evakuasi, masyarakat tetap diminta bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

“Ini sudah dipetakan radiusnya, lingkarnya. Ini memang titik-titik yang rawan kepada warga ini ada satu titik di B29, itulah yang disiagakan lebih banyak,” tegasnya.

Menurut Emil, pemantauan terhadap kondisi di sekitar permukiman dilakukan selama 24 jam. Jalur evakuasi juga telah disiapkan apabila situasi berubah dan api semakin mendekati wilayah warga.

“Tetapi selalu ada pantauan 24 jam untuk memastikan bahwa warga ini juga siaga dan siap evakuasi,” ujarnya.

Emil memastikan Pemprov Jatim bersama BNPB dan unsur terkait terus berupaya mengendalikan kebakaran. Saat ini, prioritas penanganan diarahkan pada pemadaman melalui udara menggunakan water bombing, sembari memantau pergerakan api dan kondisi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.

“Kalau yang di sekitar Puncak B29 tentu ada kerabat-kerabat mereka yang berkediaman lebih jauh lagi dari titik-titik rawan. Tetapi saya sampaikan sekali lagi, hasil pantauan rekan-rekan di lapangan ini belum pada titik evakuasi, tapi sudah disiagakan jalur evakuasinya,” tandasnya.

Pos terkait