LINTASJATIM.com, Bondowoso – Pemikiran dan keteladanan KH Imam Barmawi Burhan dalam membangun pendidikan Islam menjadi sorotan dalam bedah buku ‘Desainer Madrasah Badean: Jejak Pemikiran KH Imam Barmawi Burhan’, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Bondowoso, Dr. Suheri, yang mengulas nilai-nilai pendidikan dan kepemimpinan KH Imam Barmawi Burhan serta relevansinya bagi pengembangan madrasah saat ini.
Dalam pemaparannya, Suheri menegaskan bahwa keberhasilan lembaga pendidikan tidak cukup diukur dari kemegahan bangunan, kelengkapan fasilitas, atau prestasi akademik. Fondasi nilai, ketulusan pengabdian, dan keteladanan pemimpin juga berperan penting dalam menentukan arah perkembangan madrasah.
“Keberhasilan sebuah madrasah tidak hanya ditentukan oleh kemegahan bangunan, prestasi akademik, ataupun kelengkapan fasilitas pendidikan. Di balik kemajuan lembaga pendidikan, terdapat kekuatan nilai, ketulusan pengabdian, serta keteladanan pemimpin yang mampu menggerakkan seluruh warga madrasah,” jelasnya.
Menurut Suheri, salah satu gagasan penting KH Imam Barmawi Burhan ialah menjadikan ajaran Al-Qur’an sebagai landasan dalam penyelenggaraan pendidikan. Nilai-nilai keislaman tidak hanya diajarkan sebagai pengetahuan, tetapi juga diterapkan dalam sistem dan budaya kehidupan madrasah.
“Nilai-nilai Al-Qur’an tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi perlu diterjemahkan menjadi sistem dan budaya pendidikan yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Suheri juga memaparkan tiga konsep yang mencerminkan pembentukan budaya madrasah, yakni 3T, S3Q, dan IDB. Konsep 3T meliputi Tilawah, Tazkiyah, dan Ta’lim. Sementara itu, S3Q mencakup Salam, Silaturahmi, Salat Berjamaah, dan Al-Qur’an. Adapun IDB terdiri atas Infak, Disiplin, dan Bersih.
Ketiga konsep tersebut mengintegrasikan penguatan spiritualitas, pengembangan pengetahuan, dan pembiasaan perilaku positif. Penerapannya diharapkan mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keimanan, akhlak terpuji, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.
Bagi Suheri, pendidikan Islam perlu diarahkan pada pembentukan manusia seutuhnya. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya terlihat dari penguasaan materi, tetapi juga dari kemampuan peserta didik menerapkan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Selain filosofi pendidikan, bedah buku tersebut mengangkat sisi kemanusiaan dalam kepemimpinan KH Imam Barmawi Burhan. Buku itu mengisahkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, termasuk kesediaannya membagikan sebagian gaji kepada guru dan karyawan yang belum berstatus pegawai negeri sipil.
Kisah tersebut menggambarkan bahwa kepemimpinan pendidikan bukan sekadar menjalankan fungsi manajerial dan mengambil keputusan. Kepedulian terhadap kesejahteraan orang-orang yang menopang keberlangsungan lembaga juga menjadi bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin.
Nilai kepemimpinan itu sejalan dengan prinsip Sayyidul Ummah Khodimuhum, yang menempatkan pemimpin sebagai pelayan umat, serta Ibda’ Binafsika, yakni memulai perubahan dari diri sendiri.
Kedua prinsip tersebut menekankan pentingnya pengabdian, keteladanan, dan keterlibatan langsung seorang pemimpin dalam perjuangan bersama. Dalam lingkungan pendidikan, nilai-nilai itu menjadi fondasi untuk membangun budaya organisasi yang tidak hanya bertumpu pada instruksi, tetapi juga pada contoh nyata.
Narasumber lainnya, Dr. KH Makkur, turut menyoroti keikhlasan sebagai karakter penting dalam kepemimpinan KH Imam Barmawi Burhan. Menurutnya, keikhlasan menjadi landasan untuk menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh sekaligus menjaga komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Sementara itu, Kepala MAN Bondowoso, Ustaz Santoso, berharap kegiatan bedah buku tersebut dapat memperkuat pemahaman warga madrasah terhadap sejarah perjuangan dan nilai-nilai yang diwariskan KH Imam Barmawi Burhan.
Ia mengajak keluarga besar madrasah menjadikan pemikiran tokoh tersebut sebagai inspirasi untuk melanjutkan pengembangan lembaga. Santoso juga mengangkat semboyan, ‘Berotak Jerman, Berhati Mekah, Berkepribadian Indonesia,’ yang menggambarkan pentingnya memadukan kecakapan intelektual, kekuatan spiritual, dan karakter kebangsaan.
Melalui kegiatan bedah buku ini, pemikiran KH Imam Barmawi Burhan diharapkan tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dalam membangun pendidikan Islam yang berkarakter, berorientasi pada pengabdian, dan responsif terhadap tantangan zaman.





