Belajar Menjadi Manusia di Tengah Keberagaman

Abdul Mujib, Dosen Studi Agama dan Filsafat Islam UIN Syekh Wasil Kediri.
Abdul Mujib, Dosen Studi Agama dan Filsafat Islam UIN Syekh Wasil Kediri.

Oleh Abdul Mujib (Dosen Studi Agama dan Filsafat Islam UIN Syekh Wasil Kediri).

Ada sesuatu yang menarik dari kehidupan masyarakat di desa multireligi seperti yang ada di Kabupaten Kediri. Di tengah perbedaan agama dan keyakinan, kehidupan sosial tidak selalu dibangun melalui perdebatan tentang siapa yang paling benar.

Bacaan Lainnya

Justru tumbuh dari hal-hal sederhana seperti menghadiri hajatan tetangga, membantu ketika ada warga yang meninggal, bergotong royong, atau terlibat dalam tradisi desa. Di ruang-ruang semacam ini, keberagaman tidak hadir sebagai teori, melainkan sebagai pengalaman hidup sehari-hari.

Pengalaman tersebut mengajak kita bertanya apakah manusia harus memahami seluruh perbedaan untuk dapat hidup bersama? Ataukah, justru melalui kehidupan bersama, manusia perlahan belajar memahami perbedaan?

Dalam pengamatan terhadap kehidupan masyarakat multireligi di Kabupaten Kediri, tradisi lokal seperti selamatan dan sedekah bumi dapat menjadi ruang perjumpaan sosial.

Warga dengan latar belakang keyakinan berbeda memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan komunal, meskipun pemaknaan keagamaan mereka tidak selalu sama. Ada yang melihatnya sebagai ungkapan syukur, penghormatan terhadap tradisi leluhur, atau bagian dari ikatan sosial yang diwariskan antar generasi.

Di sinilah filsafat keberagaman menemukan relevansinya. Perbedaan tidak selalu harus diselesaikan melalui penyeragaman pandangan. Ada ruang kehidupan yang memungkinkan orang tetap berbeda, tetapi berbagi kepedulian. Manusia tidak harus menyepakati seluruh keyakinan tetangganya untuk bersedia membantu ketika tetangganya mengalami kesulitan.

Namun, kita juga perlu berhati-hati agar tidak terlalu fanatik terhadap tradisi lokal. Kebersamaan dalam suatu upacara tidak otomatis menghapus prasangka, ketimpangan, atau potensi konflik.

Kerukunan yang tampak dipermukaan perlu diuji melalui pertanyaan yang lebih mendasar yaitu apakah setiap orang memperoleh ruang yang setara? Apakah kelompok yang berbeda keyakinan benar-benar dihormati, atau sekadar dibiarkan hadir selama tidak mengganggu kebiasaan kelompok mayoritas?

Pertanyaan ini penting karena toleransi bukan sekadar kesediaan membiarkan orang lain hidup dengan keyakinannya. Toleransi juga menuntut pengakuan atas martabat dan hak orang lain. Dalam perspektif filsafat, orang lain bukan objek yang harus kita ukur berdasarkan keyakinan sendiri, melainkan sesama manusia yang keberadaannya menuntut tanggung jawab etis.

Karena itu, keberagaman semestinya membawa kita melampaui kebanggaan atas identitas masing-masing. Keimanan yang mendalam tidak harus melahirkan permusuhan, sebagaimana keteguhan beragama tidak mengharuskan seseorang menutup diri dari pengalaman kemanusiaan orang lain. Justru di hadapan perbedaan, kualitas keyakinan diuji melalui cara seseorang memperlakukan sesamanya.

Barangkali, pelajaran terpenting dari kehidupan masyarakat multireligi bukanlah semua orang akhirnya menjadi sama, melainkan bahwa mereka menemukan alasan untuk tetap hidup bersama tanpa kehilangan identitas masing-masing. Tradisi dapat menjadi jembatan, tetapi keadilanlah yang membuat jembatan itu kokoh.

Pada akhirnya, filsafat keberagaman bukan semata-mata seni memahami mengapa manusia berbeda. Ini merupakan upaya untuk memahami bagaimana perbedaan dapat mengajarkan manusia menjadi lebih manusiawi, seperti yang sering disampaikan Gus Dur. Sebab, kedewasaan beragama tidak hanya terlihat dari bagaimana seseorang berdiri teguh dalam keyakinannya, tetapi juga dari bagaimana ia memberi ruang bagi orang lain untuk berdiri teguh dalam keyakinannya sendiri.

Pos terkait