LINTASJATIM.com, Bondowoso – Tradisi Nyonteng Kolbu’ di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, mulai dipersiapkan untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).
Langkah tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk ‘Desa Budaya Sumberwringin: Menggali Permasalahan dan Strategi Pemerintah dalam Melestarikan Kearifan Budaya Nyonteng Kolbu’, yang digelar di Happy Cafe & Resto Bondowoso, Senin (29/6/2026).
Ketua Tim Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya Bondowoso, Alfareza Firdaus, M.P.P., mengatakan kajian tersebut merupakan bagian dari program pemajuan kebudayaan yang didukung Kementerian Kebudayaan. Fokus utamanya adalah pelestarian ritual Nyonteng Kolbu’ sebagai identitas budaya masyarakat sekaligus sarana menjaga kelestarian lingkungan.
“Program ini didukung Kementerian Kebudayaan, sehingga yang kami soroti adalah pelestarian ritual Nyonteng Kolbu’. Kami ingin membangun narasi bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan,” ujarnya.
Menurut Alfareza, pelestarian budaya dan lingkungan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Tradisi yang terus diwariskan kepada generasi muda diyakini mampu memperkuat karakter masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Ia menjelaskan, Desa Sumberwringin telah ditetapkan sebagai Desa Budaya sejak 2025. Kini, tim kajian mendorong agar Nyonteng Kolbu’ memperoleh pengakuan sebagai WBTBI. Status tersebut dinilai akan membuka peluang lebih besar bagi pemerintah daerah untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat dalam upaya pelestarian budaya.
Selain itu, pengakuan sebagai WBTBI juga diyakini mampu meningkatkan daya tarik sektor pariwisata. Tradisi yang memiliki kajian ilmiah dan narasi kuat dinilai akan menjadi nilai tambah bagi wisatawan.
“Output kajian ini ada dua, yakni kajian tentang Nyonteng Kolbu’ dan rekomendasi kebijakan yang akan kami sampaikan kepada pemerintah daerah,” kata Alfareza.
Ia menambahkan, Desa Sumberwringin dipilih karena berada di kawasan penyangga Ijen Geopark dan diproyeksikan menjadi daerah transit wisata sebelum wisatawan menuju Kawah Ijen. Konsep tersebut diharapkan dapat memperpanjang lama kunjungan wisatawan sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat setempat.
Untuk mendukung pengembangan itu, Tim Kajian menggandeng Universitas Jember (UNEJ) melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat, seperti pelatihan manajemen acara, digital storytelling, hingga penguatan narasi desa budaya agar masyarakat mampu mengelola potensi budaya secara mandiri.
Ke depan, Alfareza menargetkan Nyonteng Kolbu’ dapat ditetapkan sebagai WBTBI sehingga memiliki dasar hukum dan dukungan yang lebih kuat dalam pengembangannya.
Ia juga berharap kegiatan kebudayaan tidak hanya terpusat di Alun-Alun Bondowoso, tetapi juga digelar di desa-desa yang memiliki kekayaan tradisi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata.
“Harapan kami, hasil kajian ini tidak berhenti sebagai dokumen akademik. Kami sudah menginisiasi, menggandeng UNEJ, dan melakukan penguatan kapasitas masyarakat desa. Semoga pemerintah dapat menindaklanjutinya sehingga upaya pelestarian budaya benar-benar terwujud,” pungkasnya. (Rif)





