LINTASJATIM.com, Surabaya – Pengelola layanan kursi pijat di Stasiun Surabaya Gubeng angkat bicara terkait viralnya tuduhan pencurian gelang emas yang dialamatkan kepada salah satu karyawannya, A (17).
Insiden tersebut terjadi pada Senin (2/3/2026) sekitar pukul 13.00 WIB dan memicu perdebatan hingga menyebar luas di media sosial.
Dikutip dari detikJatim.com, Leader Kursi Sehat Stasiun Gubeng, Echa, membenarkan bahwa A yang baru pertama kali bertugas dituduh mengambil gelang milik seorang pelanggan. Ia menyebut tuduhan itu bermula saat konsumen mengaku kehilangan gelang usai menggunakan kursi pijat yang dijaga A.
Menurut Echa, pihaknya langsung membongkar bagian kursi pijat yang digunakan pelanggan untuk memastikan keberadaan gelang tersebut. Namun, hasilnya nihil.
“Tapi ibunya bilang, ‘Aku enggak mau tapi masnya (A) maksa. Aku kesakitan, waktu aku lepas gelangku sudah enggak ada’,” ujar Echa menirukan pernyataan pelanggan, Rabu (4/3/2026).
Echa menilai secara logika gelang sulit terselip di dalam alat pijat, karena bagian tangan bersifat terbuka.
“Kalau gelang jatuh, paling enggak ke sela bagian tangan atau jatuhnya ke kaki,” katanya.
Ia juga memastikan telah memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) untuk mengklarifikasi tudingan bahwa A memaksa pelanggan memasukkan tangan ke alat pijat. Dari hasil pengecekan, tidak ditemukan adanya unsur paksaan.
“Dari CCTV enggak ada pemaksaan, cuman menganjurkan, mengarahkan, bukan paksaan. Kalau paksaan kan dengan nada tinggi, tapi kalau arahan memang SOP-nya seperti itu,” jelasnya.
Dalam rekaman tersebut, Echa menyebut pelanggan terlihat hanya mengenakan satu gelang. Namun pelanggan tetap bersikeras kehilangan dua gelang emas.
Pada malam harinya, pelanggan kembali datang dan meminta agar kantong A diperiksa karena menganggap karyawan itu terlihat gugup. Permintaan tersebut dipenuhi pengelola di hadapan pelanggan, tetapi tidak ditemukan barang yang dimaksud.
“Dia (A) nangis gemetaran karena first time kerja. Jongkok ke bawah itu karena mesin kita di belakang, ngatur timer. Ya dia syok,” ungkap Echa.
Video yang memperlihatkan A menangis di belakang kursi pijat kemudian viral di media sosial. Dalam salah satu unggahan, seorang yang mengaku kakak A menuliskan klarifikasi.
“‘Kami memang orang tidak punya, tapi kami bukan m*ling,’ tulis sang kakak,” demikian keterangan dalam unggahan yang beredar.
Echa menambahkan, hingga kini pelanggan tersebut belum melaporkan kasus ini secara resmi ke kepolisian. Namun, ia menyebut pihak pengelola siap menempuh langkah hukum jika tuduhan terus berlanjut tanpa bukti.
“A disuruh bilang, ‘udah, Mas A bilang aja kalau ngambil. Aku enggak bakalan lapor, nanti tak kasih imbalan’. Tapi A enggak mau ngaku karena itu bukan kesalahannya. Kalau memang ada laporan ya kami lapor balik,” tegasnya.
Saat ini A diminta beristirahat selama dua hari untuk memulihkan kondisi psikologisnya. Pengelola menegaskan akan menunggu hasil resmi apabila perkara tersebut benar-benar dibawa ke ranah hukum.





