ICD UNESA Monev Pemasaran Digital Kalianyar, Ukur Konsistensi Konten dan Branding Produk Lokal

LINTASJATIM.com, Bondowoso – Tim ICD UNESA melakukan monitoring dan evaluasi terhadap penerapan pemasaran digital oleh pemuda dan pelaku usaha lokal di Desa Kalianyar dalam rangkaian kegiatan 20–21 Juli 2026. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peserta mampu menerapkan materi pelatihan Februari, mulai dari penggunaan media sosial dan identitas produk hingga penyusunan konten yang mendukung promosi potensi lokal.

Berbeda dengan evaluasi yang hanya menanyakan apakah peserta memahami materi, monev diarahkan pada cara peserta menggunakan keterampilan tersebut dalam praktik. Tim melihat kembali penggunaan akun media sosial, kejelasan informasi produk, ide foto dan video, konsistensi pesan promosi, serta kemampuan peserta menentukan konten yang sesuai dengan karakter produk dan target calon konsumen.

Bacaan Lainnya

Laporan Februari mencatat bahwa peserta telah memperoleh pemahaman mengenai identitas produk, konsistensi pesan, dan langkah dasar membuat konten kreatif. Pada saat yang sama, laporan akhir merekomendasikan adanya pendampingan lanjutan dan monitoring agar hasil pelatihan benar-benar diterapkan dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

Ketua Pelaksana ICD UNESA, Dr. Mufarrihul Hazin, M.Pd., mengatakan evaluasi memberi gambaran mengenai kebutuhan yang muncul setelah peserta mencoba menggunakan media digital secara mandiri. “Monev penting karena tantangan baru biasanya terlihat setelah pelatihan selesai. Ada yang kesulitan menjaga konsistensi, ada yang masih mencari identitas produk, dan ada pula yang membutuhkan teman untuk membuat konten. Informasi seperti itulah yang menentukan bentuk tindak lanjut,” ujarnya.

Fira Nurafini, S.EI., M.SEI. mengatakan perkembangan peserta tidak semestinya hanya diukur dari jumlah unggahan. “Yang perlu diperhatikan adalah apakah peserta mulai memahami tujuan dari sebuah konten, apakah informasi produknya semakin jelas, dan apakah mereka mulai mampu menyampaikan karakter produk secara konsisten. Frekuensi penting, tetapi kualitas komunikasi dan kemampuan mempertahankannya juga harus dilihat,” jelasnya.

Salah satu peserta pendampingan marketing digital mengaku mulai melihat media sosial dari sudut yang berbeda. “Biasanya kami hanya mengunggah apa yang ada. Setelah pelatihan, kami mulai berpikir tentang foto, tulisan, siapa yang akan melihat, dan informasi apa yang harus disampaikan. Tantangannya sekarang adalah bagaimana supaya bisa lebih rutin dan tidak kehabisan ide,” ujarnya.

Monev juga digunakan untuk melihat kesiapan Kelompok Inovasi Teknologi Inisiasi Lanjutan dalam membantu keberlanjutan program. Tim mendiskusikan kemungkinan pembagian peran berdasarkan kemampuan anggota, kegiatan produksi konten bersama, dan cara kelompok membantu pelaku usaha lokal yang membutuhkan dukungan dasar dalam menggunakan media digital.

Melalui monitoring tersebut, ICD UNESA ingin memastikan bahwa transformasi digital di tingkat desa dipahami sebagai proses peningkatan kapasitas, bukan sekadar memindahkan promosi ke media sosial. Kemampuan pemuda mengembangkan konten, membantu branding produk, dan bekerja bersama pelaku usaha lokal berpotensi memperkuat ekonomi desa sekaligus mendorong inovasi dan kemitraan. Dengan dukungan pemerintah desa, perangkat daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat, Kelompok Inovasi Teknologi Inisiasi Lanjutan diharapkan menjadi salah satu penggerak keberlanjutan program setelah rangkaian ICD UNESA 2026 berakhir.

Pos terkait