LINTASJATIM.com, Malaysia – Dewan Pendidikan Kabupaten Bondowoso memperluas wawasan pengembangan pendidikan berbasis talenta melalui studi banding ke Kolej PERMATA Insan, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Bandar Baru Nilai, Negeri Sembilan, Selasa (22/9/2026).
Kunjungan tersebut dipimpin Dr. Suheri, M.Pd.I., bersama sejumlah pegiat pendidikan. Rombongan didampingi Dr. Mahiz Spawi selaku Pengarah Kolej dan Dr. Ehwan Ngadi, Deputy Director PERMATA Insan.
Studi banding difokuskan pada pengembangan pendidikan bagi pelajar berbakat, khususnya dalam memadukan ilmu keislaman, sains, teknologi, dan riset. Rombongan juga mempelajari pola identifikasi talenta serta sistem pembelajaran untuk mengoptimalkan kemampuan peserta didik sejak jenjang pendidikan menengah.
Dr. Suheri mengatakan salah satu hal yang menarik perhatian dalam kunjungan tersebut adalah cara Kolej PERMATA Insan memadukan ilmu agama dengan perkembangan pengetahuan modern.
“Pembelajaran Al-Qur’an dan sains modern tidak harus ditempatkan dalam ruang yang berbeda. Keduanya dapat berjalan beriringan dan saling memperkuat dalam membentuk kemampuan peserta didik,” ujarnya.
Menurut Suheri, pendidikan bagi siswa berbakat membutuhkan sistem yang mampu mengenali potensi sejak dini. Setelah potensi teridentifikasi, sekolah perlu menyediakan pola pembelajaran yang sesuai dengan karakter, kebutuhan, dan kapasitas setiap siswa.
“Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Siswa dengan kemampuan akademik dan talenta tertentu perlu mendapatkan ruang pengembangan yang sesuai agar potensinya dapat tumbuh secara optimal,” katanya.
Rombongan juga mendalami konsep integrasi ilmu naqli dan aqli yang menjadi salah satu perhatian dalam model pendidikan di Kolej PERMATA Insan. Sains, teknologi, teknik, dan matematika dikembangkan bersama pemahaman terhadap nilai-nilai Al-Qur’an.
“Ilmu naqli dan aqli bukan dua hal yang harus dipisahkan. Pendidikan dapat menjadi ruang untuk mempertemukan keduanya sehingga siswa memiliki kemampuan keagamaan sekaligus kecakapan membaca perkembangan ilmu pengetahuan,” jelas Suheri.
Selain pembelajaran, budaya riset dan inovasi turut menjadi perhatian. Peserta didik diperkenalkan pada penelitian sejak sekolah menengah melalui proses mengenali persoalan, mengembangkan gagasan, melakukan kajian, hingga menghasilkan karya.
“Budaya penelitian perlu dikenalkan sejak sekolah. Anak-anak harus dibiasakan bertanya, menemukan persoalan, mencari data, dan menyusun solusi berdasarkan kajian,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi pengembangan pendidikan di Bondowoso yang memiliki ekosistem pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan yang kuat.
“Bondowoso mempunyai modal besar melalui tradisi pesantren. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut dapat dikembangkan bersama keunggulan akademik, riset, teknologi, dan pengembangan talenta,” katanya.
Suheri menegaskan praktik pendidikan di Malaysia tidak akan diterapkan secara utuh di Bondowoso. Setiap model pendidikan perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan daerah.
“Kami tidak datang untuk menyalin sistem yang ada. Yang kami pelajari adalah pendekatan dan praktik yang relevan untuk kemudian disesuaikan dengan karakter pendidikan di Bondowoso,” ujarnya.
Kunjungan tersebut sekaligus membuka peluang penguatan jejaring pendidikan antara Bondowoso dan Malaysia. Pertukaran gagasan dan pengalaman diharapkan dapat memperluas referensi dalam merancang layanan pendidikan bagi siswa berbakat.
“Pengembangan anak berbakat membutuhkan ekosistem yang lengkap, mulai dari guru, kurikulum, lingkungan belajar, budaya riset, teknologi, hingga pembinaan karakter,” tandas Suheri.





