Hari Santri, Menjaga Ingatan Perjuangan Ulama

Wafiq Ilma Maulidia, Kader PC IPPNU Kencong.
Wafiq Ilma Maulidia, Kader PC IPPNU Kencong.

LINTASJATIM.com, Jember – Peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk mengenang peran santri, kiai, dan pesantren dalam perjalanan sejarah Indonesia. Lebih dari sekadar perayaan, momentum ini mengajak masyarakat merefleksikan pentingnya menjaga ingatan tentang perjuangan para pendahulu.

Di balik sarung, peci, dan rangkaian upacara, tersimpan kisah perjuangan serta pengorbanan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peran mereka menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa, terutama ketika para ulama menyerukan perlawanan terhadap upaya penjajahan kembali.

Bacaan Lainnya

Memahami Hari Santri berarti mengenali sejarah perjuangan tersebut sekaligus mengambil pelajaran yang relevan bagi kehidupan saat ini.

Penetapan Hari Santri pada 22 Oktober berkaitan erat dengan peristiwa Resolusi Jihad yang dicetuskan para ulama pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa itu menunjukkan bahwa peran kiai dan santri tidak terbatas pada kegiatan keagamaan di pesantren. Mereka juga turut mengambil bagian dalam perjuangan melawan penjajahan dan menjaga kemerdekaan bangsa.

Semangat perjuangan tersebut juga memiliki jejak di tingkat lokal. Di Kencong, perkembangan Nahdlatul Ulama (NU) berawal dari kegiatan pengajian yang dirintis Haji Zaini Dahlan pada 1929. Pengajian yang dikenal dengan nama Nahdlah menjadi salah satu titik awal berkembangnya kehidupan keagamaan dan gerakan NU di wilayah tersebut.

Kisah ini mengingatkan bahwa perjalanan sebuah organisasi tidak terbentuk begitu saja. Ada tokoh-tokoh yang mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, dan sumber daya untuk membangun gerakan yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sayangnya, sejarah lokal seperti ini belum tentu dikenal luas oleh generasi muda. Masyarakat mungkin lebih akrab dengan peristiwa besar dalam sejarah nasional, tetapi belum banyak mengetahui tokoh-tokoh yang merintis organisasi, menghidupkan pengajian, atau membangun pendidikan di lingkungan mereka sendiri.

Padahal, mengenal sejarah di sekitar tempat tinggal dapat membantu generasi muda memahami asal-usul nilai, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakatnya.

Dalam konteks ini, gagasan memori kolektif yang dikemukakan sosiolog Maurice Halbwachs relevan untuk direnungkan. Halbwachs menjelaskan bahwa ingatan tentang masa lalu tidak hanya tersimpan dalam pikiran individu, tetapi juga dibentuk dan dipelihara melalui kehidupan sosial.

Keluarga, masyarakat, pesantren, dan organisasi menjadi ruang tempat cerita, pengalaman, serta nilai diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Artinya, sejarah akan tetap hidup selama terus diceritakan, dipelajari, dan dimaknai bersama. Sebaliknya, ketika kisah para pendahulu tidak lagi dibicarakan dan peninggalannya tidak terdokumentasikan dengan baik, generasi berikutnya berisiko semakin jauh dari sejarahnya sendiri.

Meski demikian, mengingat masa lalu bukan berarti menganggap seluruh peristiwa yang terjadi selalu benar. Sejarah perlu dipelajari secara kritis dengan memahami keberhasilan, keterbatasan, serta tantangan yang dihadapi para pendahulu. Melalui proses tersebut, masyarakat dapat mengambil pelajaran untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Bagi generasi muda NU dan kalangan santri, melanjutkan perjuangan para pendahulu dapat dimulai melalui tindakan sederhana. Kesungguhan dalam belajar, kejujuran, kepedulian terhadap sesama, serta kemauan berkontribusi bagi masyarakat merupakan wujud nyata dalam meneruskan nilai-nilai perjuangan.

Selain itu, generasi muda perlu mengenal lebih dekat sejarah para kiai, pesantren, dan tokoh NU di daerah masing-masing. Kisah mereka perlu didokumentasikan dan diwariskan agar generasi berikutnya tetap mengenal sosok-sosok yang berperan dalam membangun kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat.

Hari Santri semestinya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Peringatan ini harus menjadi pengingat bahwa sejarah memiliki arti penting bagi kehidupan masa kini dan masa depan.

Masa lalu memberikan pemahaman, masa kini menghadirkan tanggung jawab, sedangkan masa depan menjadi kesempatan untuk membuktikan pelajaran dari sejarah.

Karena itu, menjaga ingatan tentang perjuangan ulama dan santri, termasuk sejarah NU Kencong, merupakan tanggung jawab bersama. Dengan merawat memori kolektif, warisan perjuangan para pendahulu dapat terus hidup dan memberikan makna bagi generasi yang akan datang.

Pos terkait