LINTASJATIM.com, Malang – Sebanyak 25 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Tahun 2026 Bidang Studi Informatika Kelas 002 mengikuti kegiatan ‘Wawasan Kebangsaan Global’ di Ruang 402 Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM), Selasa (2/6/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan karakter, wawasan kebangsaan, serta kompetensi sosial calon guru agar mampu hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk dan menjunjung tinggi nilai toleransi.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dan pre-test untuk mengukur pemahaman peserta terkait isu kebinekaan, toleransi, dan perdamaian. Selanjutnya, peserta mendapatkan materi dari Dr. Dudung Ma’ruf Nuris, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dan Muhammad Fuad, S.E., M.Sc.
Materi yang disampaikan meliputi lima tema utama, yakni Indonesia yang Berwarna, Indonesia yang Harmoni, Damai Dimulai dari Diri, Sekolahku Bhineka, dan Sekolahku yang Damai.
Dalam sesi Indonesia yang Berwarna, peserta diajak memahami pentingnya merayakan keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama sebagai kekuatan bangsa. Sementara pada materi Indonesia yang Harmoni, peserta mendalami pentingnya mengelola perbedaan untuk mencegah munculnya prasangka, stereotipe, dan diskriminasi.
Pada sesi Damai Dimulai dari Diri, peserta diajak mengenali identitas diri dan membangun sikap welas asih (self-compassion) sebagai fondasi menghargai keberagaman orang lain.
Setelah istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan tentang penerapan nilai toleransi di lingkungan pendidikan melalui tema Sekolahku Bhineka. Peserta mendiskusikan berbagai situasi yang berpotensi terjadi di sekolah serta langkah-langkah menciptakan lingkungan yang inklusif dan adil.
Sementara itu, sesi Sekolahku yang Damai membahas upaya menciptakan sekolah yang aman dan nyaman dengan mencegah perundungan, diskriminasi, intoleransi, hingga kekerasan seksual.
Tidak hanya menerima materi secara teoritis, peserta juga mengikuti berbagai permainan edukatif, simulasi, diskusi kelompok, dan role play yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mereka terhadap nilai-nilai kebinekaan dan perdamaian.
Permainan Mayoritas-Minoritas memberikan pengalaman tentang pentingnya menghargai perbedaan, sedangkan permainan Wowo-Wiwi membantu peserta memahami bagaimana prasangka dan stereotipe dapat terbentuk dalam kehidupan sosial.
Selain itu, melalui permainan Identitasku, peserta diajak mengenali dan menghargai beragam identitas yang dimiliki setiap individu.
Kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat respons positif dari peserta. Berbagai aktivitas kolaboratif mendorong mereka berpikir kritis, membangun empati, serta mencari solusi atas persoalan yang kerap muncul di lingkungan pendidikan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa PPG tidak hanya memperoleh pemahaman tentang wawasan kebangsaan dan kebinekaan global, tetapi juga pengalaman praktis dalam menerapkan nilai toleransi, empati, dan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan post-test sebagai evaluasi akhir sekaligus penguatan komitmen peserta untuk mengimplementasikan nilai-nilai kebinekaan dalam dunia pendidikan.





