LINTASJATIM.com, Situbondo – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 2 Mimbaan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo, mengolah sampah plastik dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi tas rajut multifungsi.
Inisiatif tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi limbah plastik, tetapi juga mendorong pemberdayaan perempuan berusia di atas 50 tahun agar tetap produktif dan memiliki peluang menambah penghasilan.
Pegiat Tas Sadaja Rajut, Hary, mengatakan ide tersebut berawal dari keprihatinannya melihat tumpukan sampah plastik yang dihasilkan dari aktivitas dapur MBG.
Selain persoalan lingkungan, Hary melihat peluang untuk memberdayakan perempuan lanjut usia agar tetap memiliki aktivitas produktif dan dapat membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
“Awalnya saya mikir, mau dijadikan apa sampah yang menumpuk di dapur. Akhirnya saya punya ide untuk dijadikan tas rajut dengan memberdayakan lebih dari 10 perempuan yang sudah lanjut usia,” ungkap Hary, Kamis (27/8/2026).
Menurut Hary, pengelolaan sampah plastik tersebut telah berjalan selama sekitar enam bulan. Produk Tas Sadaja Rajut bahkan mulai diperkenalkan dalam sejumlah kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Situbondo.
“Pelatihan pertama itu pada 13 Februari 2026 lalu. Saat ini dalam satu bulan kami sudah bisa produksi 30 hingga 40 tas,” terangnya.
Sistem pengerjaan dibuat fleksibel. Para perempuan yang terlibat dapat membawa bahan produksi ke rumah masing-masing sehingga proses merajut bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan aktivitas domestik mereka.
“Jadi, ibu-ibu dapat membawa pulang bahan dan mengerjakannya di rumah masing-masing. Dengan demikian, produktivitas lansia tetap berjalan dengan sistem yang sangat fleksibel,” jelasnya.
Tas rajut tersebut memiliki harga yang bervariasi, mulai Rp80 ribu hingga Rp175 ribu. Perbedaan harga disesuaikan dengan model dan ukuran produk.
Dalam proses pembuatannya, sampah plastik terlebih dahulu melalui beberapa tahapan. Plastik dipilah berdasarkan warna, kemudian dicuci dan dijemur.
Setelah kering, bahan kembali dipilih sesuai jenisnya sebelum dirajut. Tahap terakhir adalah proses finishing untuk memastikan produk siap digunakan atau dipasarkan.
“Dalam proses produksi setidaknya terdapat lima tahap, yakni dipilah sesuai warnanya, dicuci, dijemur, dipilih sesuai bahannya, dirajut, lalu finishing,” ujarnya.
Hary mengatakan pihaknya akan terus mengembangkan pengolahan sampah dari dapur MBG. Salah satunya dengan memperluas kerja sama dengan berbagai pihak strategis untuk meningkatkan produksi dan pemasaran.
Menurut dia, produk tersebut mulai mendapatkan perhatian dari sejumlah pihak. Beberapa di antaranya berasal dari kalangan pejabat daerah dan instansi di Situbondo.
“Produk tas tersebut juga banyak diminati oleh pejabat, salah satunya istri bupati, kejari, dan dari Kodim Situbondo,” pungkasnya.
Inovasi SPPG 2 Mimbaan tersebut menunjukkan bahwa limbah plastik dari aktivitas dapur MBG dapat memiliki nilai tambah apabila dikelola secara kreatif. Pada saat yang sama, kegiatan ini membuka ruang pemberdayaan ekonomi bagi perempuan lanjut usia di Situbondo.






