Ratusan Kiai Bahas Masa Depan Pesantren di Jember

Ratusan pimpinan pesantren salafiyah dari berbagai wilayah di Indonesia menghadiri SILATNAS FKPM Salafiyah yang diselenggarakan di Ponpes Nurul Qarnain.
Ratusan pimpinan pesantren salafiyah dari berbagai wilayah di Indonesia menghadiri SILATNAS FKPM Salafiyah yang diselenggarakan di Ponpes Nurul Qarnain.

LINTASJATIM.com, Jember – Ratusan pimpinan pesantren salafiyah dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam Silaturahim Nasional (Silatnas) Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM) Salafiyah di Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Minggu (12/4/2026).

Forum ini menjadi ajang konsolidasi nasional untuk merumuskan arah penguatan pendidikan pesantren di tengah perkembangan zaman.

Bacaan Lainnya

Koordinator FKPM Salafiyah, Dr. KH Ahmad Taufiq AR, M.Si., menegaskan bahwa pesantren tidak perlu mengubah manhaj yang selama ini menjadi pijakan utama. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah memperkuat rekognisi agar pesantren memperoleh posisi setara dalam sistem pendidikan nasional.

“Pesantren tidak perlu menggeser manhajnya. Yang perlu dilakukan adalah memperkuat pengakuan, sehingga tetap diakui tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.

Ia menyebut, Silatnas ini menjadi forum strategis untuk menyatukan arah dan langkah antar-pesantren. Kegiatan tersebut merupakan pertemuan ketujuh sejak pertama kali digelar pada 2019 di Pondok Pesantren Mathaliul Falah, Kajen, dan terus berlanjut di berbagai daerah seperti Pasuruan, Tasikmalaya, Wonosobo, hingga Aceh.

Partisipasi pesantren juga menunjukkan tren peningkatan. Jika pada awal pelaksanaan hanya diikuti sekitar 26 pesantren, kini jumlahnya mencapai 96 lembaga.

“Ini menunjukkan pesantren muadalah terus berkembang, meski masih perlu ditingkatkan mengingat jumlah pesantren di Indonesia sangat besar,” katanya.

Ahmad Taufiq menambahkan, penguatan pendidikan pesantren perlu diarahkan hingga jenjang Ma’had Aly sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pesantren. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antar-pesantren dalam menghadapi tantangan ke depan.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi adalah kunci kekuatan,” tegasnya.

Selain itu, forum ini juga membahas persiapan asesmen pesantren muadalah. Dari 29 asesmen yang telah dilakukan, sebanyak 21 pesantren meraih predikat mumtaz, sementara sisanya masih perlu peningkatan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pondok Pesantren Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. Imam Turmudzi, mengingatkan pentingnya kontribusi nyata pesantren bagi masyarakat.

“Jangan sampai kita meninggalkan dunia tanpa meninggalkan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

Ia juga menyebut Jawa Timur sebagai salah satu wilayah dengan jumlah pesantren terbesar di Indonesia, yakni sekitar 7.000 lembaga, sehingga memiliki peran strategis dalam pengembangan pendidikan pesantren.

“Kita tidak harus sama, tetapi harus tetap bersama,” pungkasnya.

Melalui Silatnas ini, para pimpinan pesantren diharapkan dapat memperkuat sinergi dan merumuskan langkah konkret dalam membangun pendidikan pesantren yang adaptif, berdaya saing, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi.

Pos terkait