Polling Publik, Nama Gus Tamam Menguat Jelang Konfercab PCNU Jember

Nama Gus Tamam Menguat dalam Dinamika PCNU Jember, Polling Publik Tunjukkan Tingginya Perhatian Warga Nahdliyin.
Nama Gus Tamam Menguat dalam Dinamika PCNU Jember, Polling Publik Tunjukkan Tingginya Perhatian Warga Nahdliyin.

LINTASJATIM.com, Jember – Menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, dinamika terkait figur yang dinilai layak memimpin organisasi untuk lima tahun ke depan mulai mengemuka.

Sejumlah nama menjadi perbincangan di kalangan warga Nahdliyin, baik di lingkungan pesantren, majelis taklim, maupun ruang-ruang diskusi masyarakat. Salah satu nama yang paling banyak mendapat perhatian adalah KH Badrud Tamam, M.H.I., yang akrab disapa Gus Tamam.

Bacaan Lainnya

Perhatian publik terhadap Gus Tamam turut tergambar dalam hasil sebuah polling yang diikuti 2.080 responden. Dalam jajak pendapat tersebut, Gus Tamam memperoleh 941 suara atau 45,3 persen, menempatkannya di posisi teratas.

Posisi berikutnya ditempati K. Robith Qoshidi, Lc. dengan 589 suara (28,4 persen), disusul Dr. H. Abdul Hadi yang meraih 389 suara (18,8 persen). Sementara itu, Dr. Achmad Fathor Rosyid memperoleh 71 suara (3,4 persen), Dr. Abd Hamid Pujiono 35 suara (1,7 persen), Prof. Dr. H. Babun Suharto 31 suara (1,5 persen), dan Prof. Ahmad Taufiq 24 suara (1,2 persen).

Meski demikian, polling tersebut bukan merupakan bagian dari mekanisme resmi pemilihan Ketua PCNU Jember. Hasilnya hanya menggambarkan tingkat perhatian publik terhadap sejumlah figur yang dinilai potensial menjelang Konfercab.

Bagi sebagian warga Nahdliyin, menguatnya nama Gus Tamam bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Sosoknya dikenal sebagai ulama yang tumbuh dari tradisi pesantren dan memiliki rekam jejak panjang dalam bidang pendidikan, dakwah, serta pembinaan masyarakat.

Sebagai alumnus Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Gus Tamam dikenal konsisten mengembangkan tradisi keilmuan pesantren. Hingga kini, ia masih aktif mengajar santri, khususnya dalam kajian kitab kuning dan pendalaman ilmu-ilmu keislaman.

Di tengah masyarakat, Gus Tamam juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan mudah berbaur. Dalam berbagai kegiatan pesantren maupun sosial kemasyarakatan, ia kerap hadir bersama santri dan masyarakat tanpa menciptakan jarak. Gaya kepemimpinan yang mengedepankan keteladanan dan kedekatan tersebut dinilai menjadi salah satu nilai lebih yang dimilikinya.

Salah seorang peserta polling menilai tingginya perhatian terhadap Gus Tamam lebih dipengaruhi rekam jejak pengabdian dibanding sekadar popularitas.

“Yang menjadi perhatian kami bukan sekadar nama, tetapi perjalanan pengabdiannya. Beliau dikenal dekat dengan santri, aktif mengajar, dan konsisten hadir di tengah masyarakat. Rekam jejak seperti itu yang membuat banyak warga memberikan perhatian,” ujarnya.

Pendapat serupa disampaikan peserta polling lainnya. Menurutnya, kesederhanaan dan kedekatan Gus Tamam dengan masyarakat menjadi alasan namanya banyak diperbincangkan.

“Kesederhanaan dan kedekatan beliau dengan masyarakat menjadi hal yang paling sering dibicarakan. Di tengah banyak amanah yang diemban, beliau tetap meluangkan waktu untuk mengajar dan membina santri,” katanya.

Sementara itu, peserta polling lainnya mengingatkan bahwa hasil jajak pendapat tersebut tidak dapat dijadikan dasar dalam menentukan kepemimpinan organisasi.

“Polling ini hanya menggambarkan pandangan sebagian masyarakat. Ketua PCNU Jember tetap akan dipilih melalui mekanisme organisasi sesuai aturan Nahdlatul Ulama. Namun, hasil ini menunjukkan bahwa rekam jejak dan pengabdian masih menjadi pertimbangan penting bagi warga Nahdliyin,” ungkapnya.

Terlepas dari hasil polling tersebut, pemilihan Ketua PCNU Jember tetap akan berlangsung melalui mekanisme organisasi sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Nahdlatul Ulama.

Dinamika yang berkembang menjelang Konfercab menunjukkan bahwa selain kapasitas organisasi, rekam jejak pengabdian, keteladanan, dan kontribusi terhadap penguatan tradisi keilmuan juga menjadi perhatian warga Nahdliyin dalam menilai sosok calon pemimpin.

Pos terkait