LINTASJATIM.com, Sidoarjo – Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Sidoarjo menggelar kegiatan peningkatan kapasitas (upskilling) dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Living Aswaja An-Nahdliyah di Ballroom PCNU Sidoarjo, Minggu (1/11/2026) pagi.
Kegiatan tersebut diikuti puluhan pengurus Lakpesdam Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Sidoarjo. Bimtek ini menjadi langkah awal untuk menghimpun penulis dan peneliti yang akan mendokumentasikan tradisi serta praktik keislaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) An-Nahdliyah di tengah masyarakat.
Ketua Lakpesdam PCNU Sidoarjo, Prof. Syamsul Huda, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan karya bersama menjelang berakhirnya masa khidmat kepengurusan PCNU Sidoarjo pada akhir tahun ini.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar peningkatan kapasitas menulis, melainkan juga menjadi awal pembentukan tim yang bertugas menggali dan mendokumentasikan berbagai tradisi khas Aswaja di setiap kecamatan hingga desa di Kabupaten Sidoarjo.
“Kami ingin mempersembahkan sebuah karya di akhir periode kepengurusan ini. Bimtek ini menjadi titik awal untuk mengumpulkan tim yang akan menuliskan berbagai tradisi khas Aswaja di setiap kecamatan hingga desa,” ujarnya.
Rektor IAINU Tuban itu berharap dokumentasi tersebut dapat menjadi buah tangan bagi kepengurusan PCNU Sidoarjo dalam momentum Konferensi Cabang (Konfercab) mendatang.
Lebih dari itu, dokumentasi Living Aswaja An-Nahdliyah diharapkan menjadi warisan intelektual sekaligus kontribusi bersama dalam menjaga dan menghidupkan tradisi Nahdlatul Ulama melalui gerakan literasi.
“Ini akan menjadi karya kita bersama, bagaimana menghidupkan tradisi melalui literasi,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris PCNU Sidoarjo, H. Arisy Karomi, mengapresiasi peran Lakpesdam dalam mengembangkan pemikiran dan memperkuat organisasi Nahdlatul Ulama. Ia mengibaratkan Lakpesdam sebagai montir yang memiliki peran penting dalam menjaga sekaligus meningkatkan performa kendaraan besar bernama NU.
Menurutnya, banyak kader NU yang ingin menjadi sopir atau tampil di depan. Namun, tidak banyak yang bersedia mengambil peran sebagai montir, meskipun keberadaannya sangat dibutuhkan agar organisasi dapat berjalan dengan baik.
“Montirnya NU itu melalui Lakpesdam. Siap untuk tidak dikenal, tetapi selalu dibutuhkan setiap saat agar kendaraan besar bernama NU ini dapat berjalan lancar,” ungkapnya.
Dosen UNUSIDA tersebut menjelaskan bahwa tugas montir bukan hanya memperbaiki kendaraan ketika mengalami kerusakan, tetapi juga meningkatkan performanya agar dapat berjalan lebih baik.
Hal serupa diharapkan dilakukan Lakpesdam melalui berbagai inovasi, pengembangan pemikiran, dan pemanfaatan teknologi untuk memperkuat gerakan serta pelayanan organisasi.
Dengan demikian, khidmat jam’iyah diharapkan dapat berjalan lebih cepat, tepat, dan mampu menjawab kebutuhan umat sekaligus menghadapi tantangan perkembangan zaman.
Gus Arisy juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader Lakpesdam yang terus berkhidmat melalui kerja-kerja pemikiran dan pengembangan sumber daya manusia.
Ia berharap Lakpesdam terus menjalankan peran strategis dalam menjadikan NU semakin diperhitungkan, baik dari sisi eksistensi maupun kebermanfaatannya bagi masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi upaya Lakpesdam NU dalam memperkuat tradisi literasi sebagai bagian dari pelestarian nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah. Dokumentasi tradisi keagamaan dan sosial masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya.





