Pendakian Arjuno-Welirang Masih Tertahan Asesmen

Upaya pemadaman kebakaran di lereng Gunung Arjuno. Sumber foto: www.detik.com
Upaya pemadaman kebakaran di lereng Gunung Arjuno. Sumber foto: www.detik.com

LINTASJATIM.com, Malang – Calon pendaki Gunung Arjuno-Welirang masih harus menunda rencana pendakian. Meski kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah padam, pengelola belum mengizinkan aktivitas pendakian kembali.

UPT Tahura Raden Soerjo masih menginventarisasi sejumlah titik berbahaya yang muncul akibat kebakaran. Pemeriksaan dilakukan untuk mengantisipasi kecelakaan akibat pohon terbakar yang berisiko roboh maupun kondisi tanah yang tidak stabil.

Bacaan Lainnya

Dikutip dari detikJatim.com, Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marani, mengungkapkan bahwa keselamatan pendaki menjadi pertimbangan utama sebelum jalur dibuka kembali.

“Kebakaran sudah padam, kemarin teman-teman kami minta supaya asesmen atau cek lapangan, itu terus dilakukan dan beberapa jalur pendakian masih rawan banyak pohon terbakar, dikhawatirkan kalau ada pendaki melintas terus roboh itu kan berbahaya,” kata Tyas, Jumat (6/11/2026).

Salah satu temuan yang masih membutuhkan keputusan pengelola adalah pohon-pohon yang terdampak kebakaran. Beberapa di antaranya berada dekat dengan jalur yang biasa dilalui pendaki.

“Jadi, sementara ini kami lihat ada beberapa pohon yang terdampak kebakaran, dan ini masih dipertimbangkan akan dirobohkan atau dipertahankan. Dari beberapa pohon itu ada satu yang persis di samping jalur pendakian,” jelasnya.

Tak hanya pepohonan, kondisi jalur Pucuk juga menjadi perhatian. Akses yang relatif sempit serta tanah yang gembur berpotensi menimbulkan pergeseran material ke bagian bawah.

“Selain kondisi pohon, di jalur pucuk itu aksesnya kecil kalau dilewati, dikhawatirkan kalau kondisi tanah gembur bisa bergeser ke bawah,” imbuh Tyas.

Seluruh hasil pemeriksaan tersebut akan digunakan untuk menentukan penanganan lanjutan. Pengelola mempertimbangkan pemotongan pohon yang berpotensi tumbang serta penanganan pada jalur dengan tingkat kerawanan tinggi.

Sejak penutupan kawasan pada 17 Oktober 2026, UPT Tahura Raden Soerjo juga belum menyediakan layanan reschedule atau penjadwalan ulang pendakian.

Sementara itu, kapasitas pendaki apabila jalur kembali beroperasi tetap sebanyak 550 orang setiap hari. Kuota tersebut dibagi ke empat pintu pendakian, yakni Sumberbrantas sebanyak 200 orang, Tretes 150 orang, Tambaksari 150 orang, dan Lawang 50 orang.

Pengelola belum menetapkan jadwal pembukaan kembali karena masih memprioritaskan pemeriksaan dan penanganan potensi bahaya. Calon pendaki pun diminta menunggu kepastian hingga kondisi jalur dinyatakan aman.

Pos terkait