LINTASJATIM.com, Banyuwangi – Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) sekaligus momentum Sumpah Pemuda, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Banyuwangi menggelar bedah buku ‘Hari-Hari Revolusi Indonesia’, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan bertajuk Bincang HSN dan Sumpah Pemuda tersebut berlangsung di Aula Gedung Bappeda Kabupaten Banyuwangi mulai pukul 13.30 WIB.
Bedah buku ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Muhammad Ardiyansyah dari Ngenger.co sekaligus tim alih aksara naskah Kiai Chalim, Ayung Notonegoro selaku Ketua MWC NU Kecamatan Banyuwangi sekaligus pendiri Komunitas Pegon, serta Alda Syafira, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Cordoba Banyuwangi.
Acara diawali sambutan Rais Syuriyah MWC NU Banyuwangi. Selanjutnya, diskusi dipandu moderator Meylinda.
Dalam sesi pertama, Muhammad Ardiyansyah menjelaskan proses penyusunan buku ‘Hari-Hari Revolusi Indonesia’ yang bersumber dari manuskrip milik keluarga Kiai Abdul Chalim Siddiq.
Naskah tersebut diperoleh dalam bentuk hasil pemindaian digital. Bersama tim, Ardiyansyah melakukan proses alih aksara dan penerjemahan hingga manuskrip tersebut dapat diterbitkan menjadi sebuah buku.
Ia menjelaskan, manuskrip tersebut menggunakan aksara Pegon dengan bahasa Jawa, Madura, Belanda, dan Arab.
Ardiyansyah juga memaparkan profil Kiai Abdul Chalim Siddiq, putra Kiai Muhammad Siddiq dari Jember. Keduanya dimakamkan di kompleks pemakaman Condro, Kabupaten Jember.
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Gus Zidni yang merupakan cucu Kiai Chalim.
Menurut Ardiyansyah, Kiai Chalim merupakan sosok yang teliti dan memiliki penguasaan terhadap penanggalan Jawa, Masehi, serta Hijriah.
Hal itu terlihat dari catatan hariannya yang ditulis secara rutin sejak sehari setelah Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947 hingga Februari 1948.
Ketelitian Kiai Chalim tergambar dari berbagai catatan terperinci, termasuk daftar barang yang dibawanya ketika berpindah dari satu desa ke desa lain. Bahkan, barang-barang kecil seperti peniti turut dicatat beserta jumlahnya.
Ardiyansyah juga mengungkapkan posisi strategis Kiai Chalim dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam pandangan Van der Plas yang saat itu menjabat Gubernur Jawa Timur.
“Kiai Chalim sendiri ialah Ketua Masyumi Karesidenan Besuki sekaligus staf politik dan penasehat PPPR. PPPR itu Pusat Penghimpunan Perjuangan Rakyat atau badan yang menghimpun seluruh laskar perjuangan di Jember, yang bahkan setelahnya juga berdiri di daerah lain seperti Besuki,” jelas Ardiyansyah.
Sementara itu, Ayung Notonegoro mengulas sejumlah catatan dalam buku tersebut yang berkaitan dengan sejarah perjuangan masyarakat Banyuwangi.
Ia menyoroti laporan Sastradimulya kepada Kiai Chalim yang saat itu menjabat Ketua Masyumi Cabang Blambangan. Laporan tersebut menggambarkan kondisi Banyuwangi ketika mendapat serangan pesawat-pesawat Belanda.
Dalam catatan itu disebutkan hanya dua wilayah yang tidak menjadi sasaran serangan, yakni Srono dan Blambangan yang sekarang dikenal sebagai Muncar.
Ayung juga membacakan bagian naskah yang mengisahkan tragedi penyerangan terhadap warga Banyuwangi.
“Belanda menggranat rakyat yang takut dan bersembunyi di bawah jembatan Panderejo,” tutur Ayung.
Ia kemudian menjelaskan lokasi tragedi tersebut sekaligus mengajak peserta merefleksikan kekejaman pasukan Belanda terhadap masyarakat pada masa perjuangan kemerdekaan.
Selain itu, Ayung mengangkat keteladanan Kiai Abdullah Faqih dari Cemoro yang tetap bersedia memimpin perlawanan terhadap Belanda meskipun usianya sudah lanjut.
Kisah tersebut menjadi salah satu bahan refleksi mengenai semangat perjuangan dan pengabdian para tokoh terdahulu, terutama dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda.
Narasumber ketiga, Alda Syafira, yang merupakan dosen sekaligus Dekan FTIK Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, membahas sosok Kiai Abdul Hannan dari Manggisan yang juga disebut dalam manuskrip Kiai Chalim.
Alda mengajak peserta yang didominasi generasi Z untuk mengambil pelajaran dari kisah perjuangan dan keteladanan para tokoh yang tercatat dalam buku tersebut.
Ia juga mendorong generasi muda membangun kebiasaan literasi, terutama melalui kegiatan membaca. Alda mencontohkan pengalamannya yang telah membiasakan diri membaca sejak duduk di kelas IV sekolah dasar.
Penyampaian materi yang dekat dengan karakter generasi muda membuat diskusi berlangsung interaktif. Peserta turut terlibat dalam pembahasan dan refleksi sejarah yang disampaikan para narasumber.
Kegiatan kemudian ditutup dengan ulasan moderator mengenai buku ‘Hari-Hari Revolusi Indonesia’ sekaligus sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi langsung dengan para narasumber.





