LINTASJATIM.com, Sidoarjo – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Tulangan berkolaborasi dengan Pimpinan Ranting (PR) IPNU-IPPNU Kajeksan menggelar Pekan Assessment dan Standarisasi (PASS), Senin (15/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di basecamp PR IPNU-IPPNU Kajeksan tersebut menjadi ruang evaluasi untuk memperkuat tata kelola organisasi, administrasi, dan kaderisasi di tingkat ranting.
PASS juga menjadi momentum bagi pengurus untuk mengidentifikasi perkembangan organisasi, kendala yang dihadapi, serta kebutuhan kader. Evaluasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah pengembangan organisasi ke depan.
Ketua PR IPNU Kajeksan, Moch Agil Bachtiar, menyampaikan apresiasi kepada panitia, kader, dan seluruh pihak yang telah terlibat dalam pelaksanaan kegiatan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, kader, dan semua pihak yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini,” ujar Agil.
Dalam kesempatan tersebut, Agil turut menyampaikan tantangan dalam menjaga keaktifan kader. Ia berharap masukan dari jajaran kaderisasi serta PAC IPNU-IPPNU Tulangan dapat membantu ranting mengaktifkan kembali kader yang sebelumnya kurang aktif sekaligus mempertahankan kader yang masih aktif.
Menurut Agil, keberagaman aktivitas kader, mulai dari kegiatan belajar, kuliah, hingga kesibukan lainnya, menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keberlangsungan kaderisasi di tingkat ranting.
Menanggapi hal itu, Ketua PAC IPPNU Tulangan, Nur Hidayati, mengatakan pendekatan terhadap kader perlu dilakukan secara personal dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan masing-masing.
“Kalau ingin menarik rekan-rekanita kembali ke ranting, kita perlu masuk ke lingkungannya terlebih dahulu, melihat bagaimana lingkungan, teman, dan kondisi di sekitarnya. Setelah itu, pelan-pelan kita ajak kembali ke dalam ranting,” jelas Nur Hidayati.
Ia menambahkan, lingkungan pertemanan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam proses pendekatan kader. Pengurus perlu memahami karakter, pola pergaulan, dan cara pandang kader sebelum menentukan strategi pembinaan.
Sementara itu, Ketua IPPNU Kajeksan, Endah Nur Arrahma, berharap proses assessment dan evaluasi dapat memberikan manfaat bagi perkembangan organisasi. Hasil kegiatan tersebut diharapkan menjadi bahan untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan dalam menjalankan khidmah di IPNU-IPPNU dan Nahdlatul Ulama.
Perwakilan Ketua PAC IPNU Tulangan, Ardi, menegaskan bahwa visitasi dan assessment tidak semata-mata bertujuan mencari kekurangan organisasi. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas tata kelola, administrasi, dan pembinaan organisasi di tingkat ranting.
“Program visitasi ini bukan semata-mata untuk menilai atau mencari kekurangan, tetapi menjadi ruang bagi kita untuk berdiskusi, mengevaluasi, dan bersama-sama mencari solusi agar PR IPNU-IPPNU Kajeksan dapat semakin berkembang,” ujar Ardi.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat tata kelola organisasi sekaligus mendorong pola kaderisasi yang lebih adaptif terhadap kondisi kader. Dengan demikian, pembinaan tidak hanya berorientasi pada kelengkapan administrasi, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan kader dan keberlanjutan organisasi.
Ardi juga mengapresiasi pengurus PR IPNU-IPPNU Kajeksan yang telah mempersiapkan kegiatan dengan baik. Ia menilai proses evaluasi perlu dilanjutkan dengan langkah pembenahan dan penguatan organisasi.
“Saya berharap seluruh pengurus PR IPNU-IPPNU Kajeksan dapat menjadikan visitasi ini sebagai momentum untuk berbenah dan meningkatkan kualitas organisasi menjadi lebih baik ke depannya,” pungkasnya.





