LINTASJATIM.com, Jember – Prestasi membanggakan diraih Awaliya Safithri, putri asal Desa Pucakwangi, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Ia resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka Program Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
Putri pasangan H. Suradi dan Hj. Siti Khoiriyah itu mengangkat disertasi berjudul ‘Kiai dan Ketahanan Keluarga Santri Perspektif Maqasid Al-Usrah Jamaluddin Athiyyah (Studi tentang KH Yazid Karimullah dalam Mewujudkan Ketahanan Keluarga bagi Santri di Pondok Pesantren Nurul Qarnain Jember)’.
Melalui penelitiannya, Awaliya mengkaji peran KH Yazid Karimullah, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain Jember, dalam membangun ketahanan keluarga santri dan alumni di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.
Saat dihubungi, Minggu (21/6/2026), Awaliya mengatakan ketertarikannya meneliti sosok KH Yazid Karimullah berangkat dari kiprah nyata yang dilakukan dalam membina kehidupan keluarga santri, baik selama berada di pesantren maupun setelah menjadi alumni.
“Di tengah meningkatnya persoalan keluarga dan tingginya angka perceraian, saya melihat ada model pembinaan keluarga yang menarik dan relevan untuk dikaji secara akademik. KH Yazid Karimullah tidak hanya memberikan nasihat keagamaan, tetapi juga membangun sistem pendampingan yang berkelanjutan bagi santri dan alumni dalam kehidupan berkeluarga,” ujarnya.
Dalam penelitiannya, Awaliya menemukan bahwa konsep ketahanan keluarga yang diterapkan KH Yazid Karimullah bertumpu pada tiga prinsip utama, yakni al-amn (keamanan dan ketenteraman keluarga), as-shihhah (kesehatan jasmani dan rohani), serta al-kifayah (kecukupan ekonomi).
Menurutnya, ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan berdaya tahan.
Implementasi konsep tersebut tidak hanya disampaikan melalui pengajian atau pembelajaran formal, tetapi diwujudkan dalam berbagai program pendampingan. Di antaranya penguatan materi fikih munakahat, pembinaan melalui Ikatan Santri dan Alumni Nurul Qarnain (ISNUQ), layanan konsultasi keluarga, mediasi konflik rumah tangga, hingga program pemberdayaan ekonomi berbasis pertanian, peternakan, dan kewirausahaan.
“Ketahanan keluarga tidak cukup dibangun hanya dari aspek ekonomi. Ada dimensi spiritual, psikologis, sosial, dan moral yang harus diperkuat secara bersamaan. Di sinilah pesantren memiliki peran yang sangat strategis,” katanya.
Awaliya menjelaskan, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa konsep dan praktik yang dijalankan KH Yazid Karimullah sejalan dengan teori Maqasid Al-Usrah yang dikembangkan Jamaluddin Athiyyah, terutama dalam menjaga keharmonisan rumah tangga, melindungi keturunan, memperkuat nilai-nilai agama, serta menciptakan stabilitas sosial dan ekonomi keluarga.
Temuan tersebut juga memperlihatkan bahwa pesantren memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar lembaga pendidikan keagamaan. Pesantren dinilai mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial, termasuk penguatan ketahanan keluarga.
Keberhasilan Awaliya meraih gelar doktor disambut penuh syukur oleh keluarga, masyarakat Desa Pucakwangi, serta keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Qarnain Jember.
Ia berharap disertasinya dapat menjadi referensi akademik sekaligus inspirasi bagi pengembangan model pembinaan keluarga berbasis pesantren di Indonesia.
“Semoga penelitian ini tidak berhenti sebagai karya akademik semata, tetapi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi kontribusi kecil untuk penguatan keluarga muslim di Indonesia,” pungkasnya.





