Putra Lereng Raung Raih Doktor, Tawarkan Konsep Baru Kepemimpinan Bu Nyai

Sidang terbuka program doktoral Hasbi Ash Shiddiqi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Sidang terbuka program doktoral Hasbi Ash Shiddiqi di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

LINTASJATIM.com, Malang – Prestasi membanggakan kembali lahir dari kalangan pesantren. Hasbi Ash Shiddiqi, putra Dusun Bungko’ong, Desa Gunung Malang, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, berhasil meraih gelar doktor pada Program Doktor Studi Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Gelar tersebut diraih setelah Hasbi sukses mempertahankan disertasinya dalam ujian promosi doktor yang digelar beberapa waktu lalu.

Bacaan Lainnya

Perjalanan akademik Hasbi menjadi kisah inspiratif. Lahir dan tumbuh di kawasan lereng Raung yang relatif jauh dari pusat pendidikan, ia mampu menembus Universitas Al-Azhar Mesir sebelum akhirnya menyelesaikan studi doktoralnya di salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Indonesia.

Dalam disertasinya, Hasbi mengangkat tema ‘Bu Nyai dalam Ruang Publik Perspektif Feminisme Eksistensial (Studi tentang Fenomena Bu Nyai Pesantren sebagai Perempuan Karier Legislatif di Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur)’.

Penelitian tersebut menyoroti peran perempuan pesantren, khususnya Bu Nyai, yang aktif dalam dunia politik dan pengambilan kebijakan publik.

Disertasi yang dibimbing Prof. Dr. Hj. Mufidah Ch., M.Ag. sebagai promotor dan Prof. Dr. H. M. Fauzan Zenrif, M.Ag. sebagai ko-promotor itu berangkat dari fenomena meningkatnya keterlibatan Bu Nyai dalam ruang publik, khususnya sebagai anggota legislatif di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur.

Melalui penelitian lapangan yang dilakukan secara mendalam, Hasbi menemukan bahwa keterlibatan Bu Nyai dalam politik tidak semata didorong oleh kepentingan kekuasaan. Mereka hadir sebagai representasi pengabdian sosial, penyambung aspirasi masyarakat, sekaligus perpanjangan peran pesantren di ruang publik.

“Saya melihat banyak Bu Nyai yang memiliki pengaruh besar di masyarakat. Mereka tidak hanya mendidik santri dan mengelola pesantren, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivitas sosial dan politik. Fenomena ini menarik untuk dikaji karena menunjukkan bahwa perempuan pesantren memiliki kapasitas besar dalam membangun masyarakat,” ujar Hasbi, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, hasil penelitian menunjukkan adanya transformasi peran perempuan pesantren dari objek menjadi subjek yang aktif menentukan pilihan hidupnya. Meski demikian, proses tersebut tidak menghilangkan identitas religius maupun tradisi pesantren yang melekat pada diri mereka.

“Yang menarik, para Bu Nyai tidak harus melepaskan identitas religiusnya ketika masuk ke ruang publik. Justru nilai-nilai pesantren menjadi sumber kekuatan moral dan spiritual dalam menjalankan peran sosial serta politik mereka,” katanya.

Salah satu temuan penting dalam penelitian tersebut adalah lahirnya konsep ‘Feminisme Eksistensial Berbasis Pesantren’. Konsep ini menawarkan perspektif bahwa agama dan tradisi pesantren tidak selalu menjadi penghalang bagi perempuan untuk berkembang, melainkan dapat menjadi fondasi dalam membangun kepemimpinan, kemandirian, dan eksistensi diri.

Saat ini, selain menyandang gelar doktor, Hasbi juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) di INSYAKA.

Ia berharap hasil penelitiannya dapat memperkaya khazanah keilmuan Islam sekaligus menjadi referensi dalam kajian pesantren, perempuan, dan transformasi sosial.

“Saya berharap penelitian ini dapat menjadi bagian kecil dari upaya memperkaya khazanah keilmuan Islam, khususnya terkait pesantren, perempuan, dan transformasi sosial. Pesantren memiliki banyak kekayaan intelektual yang perlu terus dikaji dan dikembangkan,” tuturnya.

Perjalanan Hasbi dari pelosok lereng Raung hingga meraih gelar doktor menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai pendidikan tinggi. Dengan ketekunan, kerja keras, dan semangat belajar yang kuat, cita-cita besar dapat diwujudkan.

Pos terkait