DPRD Jatim Desak Percepatan Pembangunan Jembatan Sentong

Ahmad Hadinuddin saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di Rumah Makan Lestari, Bondowoso.
Ahmad Hadinuddin saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di Rumah Makan Lestari, Bondowoso.

LINTASJATIM.com, Bondowoso – Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Gerindra, Ahmad Hadinuddin, mendesak percepatan pembangunan Jembatan Sentong yang menghubungkan Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember. Menurutnya, keterlambatan penyelesaian proyek tersebut semakin memperbesar dampak ekonomi dan sosial yang dirasakan masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Ahmad Hadinuddin saat menghadiri Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di Rumah Makan Lestari, Bondowoso, Sabtu (20/6/2026).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, sejak Jembatan Sentong ambruk pada Februari lalu, masyarakat masih menghadapi berbagai kendala, terutama terkait mobilitas dan distribusi barang. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi warga di sekitar kawasan jembatan serta para pelaku usaha yang selama ini bergantung pada akses jalur Bondowoso–Jember.

“Agar pembangunan Jembatan Sentong cepat selesai, perlu dilakukan percepatan. Pemerintah Kabupaten Bondowoso harus melakukan koordinasi secara intensif dengan pemerintah di atasnya,” ujar Ahmad.

Politisi dari Daerah Pemilihan Jawa Timur IV itu menilai koordinasi antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan kontraktor pelaksana menjadi kunci agar proyek dapat berjalan sesuai target.

Ia meminta pemerintah daerah segera melakukan evaluasi bersama pihak pelaksana untuk mengetahui progres pekerjaan sekaligus mencari solusi atas berbagai kendala yang muncul selama proses pembangunan.

“Harus segera dibicarakan dengan pihak ketiga. Jika memang menjadi kewenangan provinsi, maka pemerintah provinsi juga harus dilibatkan agar ada percepatan penyelesaian,” katanya.

Ahmad menjelaskan, Jembatan Sentong memiliki peran strategis sebagai salah satu jalur utama yang menghubungkan Bondowoso dan Jember. Jalur tersebut juga mendukung konektivitas menuju Situbondo dan sejumlah daerah lainnya.

Karena itu, menurutnya, keterlambatan pembangunan berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi masyarakat.

“Dampak yang paling terasa adalah sektor ekonomi masyarakat di sekitar jembatan. Selain itu, mobilitas warga pada berbagai momen juga ikut terganggu,” tegasnya.

Selama pembangunan berlangsung, arus kendaraan dialihkan ke sejumlah jalur alternatif. Kondisi ini menyebabkan peningkatan volume lalu lintas pada ruas jalan lain, termasuk jalan provinsi yang mulai mengalami kerusakan akibat tingginya intensitas kendaraan.

Ahmad menilai semakin lama pembangunan berlangsung, semakin besar pula beban yang harus ditanggung masyarakat. Karena itu, ia meminta kontraktor memaksimalkan sumber daya yang ada agar pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat tanpa mengurangi kualitas konstruksi.

“Dengan anggaran sekitar Rp17 miliar, pengerjaan harus dimaksimalkan. Tenaga kerja perlu ditambah dan penggunaan peralatan pendukung harus dioptimalkan agar proses pembangunan lebih cepat,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Jembatan Sentong ambruk pada 23 Februari 2026 setelah diterjang derasnya arus Sungai Silo Lembu akibat hujan berintensitas tinggi. Jembatan yang berada di perbatasan Kelurahan Nangkaan dan Desa Sukowiryo, Kecamatan Bondowoso, itu merupakan infrastruktur bersejarah yang telah berusia lebih dari satu abad.

Sebelum ambruk, struktur jembatan dilaporkan mengalami keretakan dan penurunan kualitas akibat faktor usia. Peristiwa tersebut menyebabkan separuh badan jalan putus dan membentuk lubang besar yang membahayakan pengguna jalan sehingga jalur utama Bondowoso–Jember harus ditutup total.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur kemudian mempercepat pembangunan ulang jembatan yang sebelumnya telah dianggarkan sebesar Rp17,5 miliar. Saat ini pembangunan jembatan permanen masih berlangsung dengan target penyelesaian sekitar delapan bulan.

Ahmad berharap seluruh pihak dapat bersinergi agar proyek tersebut segera rampung sehingga masyarakat kembali memperoleh akses transportasi yang aman dan lancar.

“Penyelesaian Jembatan Sentong bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut kelancaran distribusi barang, mobilitas masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi daerah. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana pembangunan ini bisa segera selesai sehingga manfaatnya kembali dirasakan masyarakat,” pungkasnya.

Pos terkait