LINTASJATIM.com, Bondowoso – Bupati Bondowoso KH Abdul Hamid Wahid mendorong pesantren untuk memperkuat kemandirian ekonomi melalui pengelolaan Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) secara produktif. Menurutnya, pesantren perlu bertransformasi dari pola pembiayaan yang bergantung pada donasi menuju sistem yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Hal itu disampaikan saat membuka Seminar Nasional Festival Muharram 1448 H x Road to Fesyar SAMARA bertema ‘Sinergi Membangun Ekosistem ZISWAF Produktif Pesantren yang Mandiri dan Berkelanjutan’ di Pendopo Raden Bagus Asra Bondowoso, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan yang merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember tersebut menghadirkan Ketua DPW HEBITREN Jawa Timur KH Faiz AHZ, Kepala Divisi Implementasi KEKDA Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Yono Haryono, serta Guru Besar Ekonomi dan Keuangan Sosial Islam Universitas Airlangga Prof. Dr. Tika Widiastuti.
Dalam sambutannya, Bupati Hamid mengapresiasi Bank Indonesia Jember yang dinilai konsisten mendukung penguatan ekonomi syariah dan pemberdayaan pesantren di Bondowoso.
“Saya menyampaikan penghargaan kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember atas sinergi yang terus dibangun bersama Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam mendorong penguatan ekonomi syariah dan pemberdayaan pesantren,” ujarnya.
Menurut Hamid, pesantren memiliki peran strategis tidak hanya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Ia menilai tantangan yang dihadapi pesantren saat ini semakin kompleks, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, pengembangan kompetensi santri, pembangunan infrastruktur, hingga tuntutan digitalisasi tata kelola lembaga.
Karena itu, pesantren membutuhkan sistem pembiayaan yang mampu menopang keberlanjutan lembaga dalam jangka panjang.
“Pembiayaan bukan sekadar persoalan dana, tetapi instrumen strategis untuk membangun masa depan pesantren. Pesantren membutuhkan sistem pembiayaan yang berkelanjutan dan mandiri,” tegasnya.
Hamid menekankan pentingnya perubahan paradigma pembiayaan pesantren dari ketergantungan menuju pemberdayaan. Salah satunya melalui pembiayaan berbasis komunitas yang melibatkan masyarakat, alumni, pelaku usaha, pemerintah, lembaga keuangan syariah, akademisi, dan lembaga zakat.
Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan hanya menghimpun dana ZISWAF, tetapi juga mengelolanya secara produktif agar memberikan manfaat jangka panjang.
“Kita harus menggeser orientasi dari pola konsumtif menuju pola produktif,” katanya.
Ia menjelaskan, wakaf produktif dapat dikembangkan untuk sektor pertanian, perdagangan, rumah produksi, maupun unit usaha pesantren lainnya. Sementara zakat, infak, dan sedekah dapat diarahkan untuk program pemberdayaan ekonomi masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Selain itu, Hamid juga mendorong optimalisasi peran alumni pesantren sebagai mitra strategis dalam pengembangan lembaga. Alumni dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung jejaring usaha, transfer pengetahuan, hingga akses pendanaan.
Pesantren juga didorong mengembangkan berbagai sektor usaha produktif, seperti pertanian, peternakan, perdagangan, industri kreatif, ekonomi digital, dan produk halal.
“Pesantren perlu didorong menjadi pusat kewirausahaan sosial yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, Hamid mengajak pesantren memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat tata kelola keuangan melalui penggunaan QRIS, platform donasi digital, dan sistem informasi keuangan yang transparan.
“Semakin transparan pengelolaan keuangan pesantren, semakin tinggi tingkat kepercayaan masyarakat. Semakin tinggi kepercayaan itu, semakin besar pula partisipasi yang diberikan kepada pesantren,” jelasnya.
Bupati Hamid menegaskan bahwa penguatan pesantren merupakan bagian penting dari strategi pembangunan daerah. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Bondowoso akan terus memperkuat kolaborasi dengan Bank Indonesia, lembaga keuangan syariah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga amil zakat.
Ia optimistis pesantren yang mandiri secara ekonomi akan melahirkan santri yang mandiri, masyarakat yang berdaya, serta mendukung terwujudnya Bondowoso yang religius, maju, dan sejahtera.
“Mari jadikan ZISWAF produktif sebagai instrumen pemberdayaan dan pesantren sebagai pusat pertumbuhan ekonomi umat yang mandiri dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Rif)





