LINTASJATIM.com, Situbondo – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimy mendukung wacana pembentukan Desa Adat Sukorejo. Gagasan tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan daerah dengan pelestarian budaya lokal dan nilai-nilai keislaman yang telah mengakar di tengah masyarakat.
Ketua BEM Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimy, Abdul Halim, mengatakan Sukorejo memiliki karakter sosial, budaya, dan historis yang khas dibandingkan wilayah lain di Kabupaten Situbondo.
Menurutnya, keberadaan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo telah membentuk kehidupan masyarakat yang religius, berbudaya, dan memiliki tradisi keilmuan yang kuat.
“Wacana desa adat ini merupakan langkah yang sangat baik karena Sukorejo memiliki kekhasan yang lahir dari sejarah panjang pesantren, tradisi keagamaan, dan kehidupan masyarakat yang tumbuh berdampingan selama puluhan tahun,” ujarnya.
Abdul Halim menilai status desa adat tidak boleh dipahami sebatas simbol administratif. Lebih dari itu, status tersebut harus menjadi instrumen untuk melestarikan nilai-nilai yang selama ini menjadi identitas masyarakat Sukorejo.
Ia menyebut tantangan terbesar saat ini adalah menjaga warisan budaya lokal agar tetap relevan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Karena itu, keberadaan desa adat dinilai dapat menjadi ruang untuk merawat tradisi sekaligus memperkuat posisi Sukorejo sebagai kawasan yang kaya akan budaya pesantren.
Selain dikenal sebagai pusat pendidikan Islam, Sukorejo juga memiliki beragam tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Jangan sampai modernisasi membuat masyarakat kehilangan akar budayanya. Kemajuan harus berjalan beriringan dengan pelestarian nilai dan tradisi yang telah diwariskan para pendahulu,” katanya.
Abdul Halim juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam proses pembentukan desa adat. Menurutnya, kebijakan yang dihasilkan harus benar-benar mencerminkan kebutuhan dan aspirasi warga.
Ia berharap tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, pemuda, pemerintah desa, dan berbagai unsur lainnya dapat berkolaborasi dalam merumuskan arah pengembangan Desa Adat Sukorejo.
Menurutnya, kolaborasi yang kuat akan menjadikan desa adat bukan hanya sebagai sarana pelestarian budaya, tetapi juga instrumen penguatan sektor pendidikan, sosial, dan ekonomi masyarakat.
“Kami berharap Sukorejo tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga menjadi contoh bagaimana budaya pesantren dan pembangunan daerah dapat berjalan beriringan,” ujarnya.
BEM Fakultas Tarbiyah Universitas Ibrahimy meyakini, apabila dikelola secara baik dan partisipatif, Desa Adat Sukorejo dapat menjadi model pelestarian budaya pesantren yang mampu menjaga warisan masa lalu sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat di masa depan.





