LINTASJATIM.com, Jember – Sebanyak 250 santri, mahasiswa, dan mahasantri mengikuti Pendidikan Dasar Keorganisasian (PDO) yang digelar Ikatan Santri Nurul Qornain (ISNUQ) di Pondok Pesantren Nurul Qornain, Desa Balet Baru, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember, Sabtu (10/10/2026).
Dalam kegiatan perdana tersebut, Ketua PC GP Ansor Bondowoso, Fathor Rozi, hadir sebagai narasumber untuk membekali peserta dengan pengetahuan tentang organisasi dan kepemimpinan.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 2 Kantor Pusat Pondok Pesantren Nurul Qornain itu diikuti peserta dari lima lembaga pendidikan di bawah naungan yayasan pesantren, yakni SMK Nurul Qornain, Madrasah Aliyah (MA) Nurul Qornain, Mu’adalah Aliyah Nurul Qornain, Institut Agama Islam KH. Yazid Karimullah (INSYAKA), serta Ma’had Aly Nurul Qornain.
Dalam pemaparannya, Fathor Rozi membawakan materi bertajuk “Keorganisasian & Kepemimpinan: Bekal Santri dan Mahasiswa Menjadi Pemimpin Masa Depan”. Ia menegaskan bahwa organisasi menjadi ruang pembelajaran untuk melengkapi pengetahuan yang diperoleh di bangku pendidikan.
“Selain di dalam kelas, ilmu juga didapat di organisasi. Organisasi melatih empat skill utama: public speaking, manajemen waktu, problem solving, dan networking,” ujar Fathor Rozi di hadapan peserta.
Menurutnya, keterlibatan dalam organisasi membantu santri dan mahasiswa mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai persoalan. Kemampuan berbicara di depan publik, mengelola waktu, menyelesaikan masalah, dan membangun jejaring menjadi bekal penting bagi calon pemimpin.
Fathor Rozi juga menyoroti pentingnya memadukan nilai-nilai kepesantrenan dengan kemampuan berpikir kritis. Menurutnya, santri memiliki bekal adab, sedangkan mahasiswa mengembangkan kemampuan bernalar. Perpaduan keduanya diharapkan melahirkan pemimpin yang berilmu sekaligus berkarakter.
Ia turut mengenalkan lima gaya kepemimpinan, yakni otokratis, demokratis, karismatik, transformasional, dan melayani (servant leadership). Dari berbagai gaya tersebut, ia menekankan pentingnya kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan.
Gaya kepemimpinan melayani dinilai relevan bagi santri karena menempatkan kepentingan orang yang dipimpin sebagai bagian penting dari tanggung jawab pemimpin. Prinsip ini sejalan dengan ungkapan “Sayyidul qoumi khodimuhum”, yang berarti pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.
Sementara itu, Ketua Panitia PDO, Muhammad Lutfi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan membekali santri dan mahasiswa dengan kemampuan dasar berorganisasi. Dengan demikian, mereka diharapkan mampu mengembangkan kapasitas diri di samping memperkuat kemampuan akademik dan keagamaan.
“Santri Nurul Qornain harus siap menjadi pemimpin, baik di pesantren, di kampus, maupun di masyarakat. Ini adalah PDO pertama, insyaAllah akan menjadi program berkelanjutan,” ungkap Muhammad Lutfi.
Kegiatan ini tidak hanya diisi dengan penyampaian teori. Peserta juga diajak mengidentifikasi persoalan yang kerap muncul dalam organisasi, menganalisis penyebabnya, serta mendiskusikan alternatif penyelesaian.
Selanjutnya, peserta diarahkan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai bentuk penerapan materi yang diperoleh. Melalui langkah tersebut, pemahaman tentang organisasi dan kepemimpinan diharapkan dapat diwujudkan dalam rencana aksi yang konkret.
Antusiasme peserta mewarnai pelaksanaan PDO perdana yang menggabungkan pembelajaran keorganisasian dengan penguatan karakter kepemimpinan. Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah awal ISNUQ dalam membangun program kaderisasi yang berkelanjutan.
Forum ditutup dengan pesan, “Pemimpin besar tidak menciptakan pengikut, pemimpin besar menciptakan pemimpin baru.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari kemampuannya mengarahkan orang lain, tetapi juga dari upayanya menumbuhkan calon pemimpin baru di lingkungan pesantren, kampus, dan masyarakat. (Rif)





