FJTT 2026 Siap Digelar, Persiapan Capai 60 Persen

Performa salah satu peserta Festival Jaranan Terbuka Trenggalek di Alun-alun Trenggalek tahun lalu. (Dok. FJTT)
Performa salah satu peserta Festival Jaranan Terbuka Trenggalek di Alun-alun Trenggalek tahun lalu. (Dok. FJTT)

LINTASJATIM.com, Trenggalek – Persiapan Festival Jaranan Terbuka Trenggalek (FJTT) 2026 terus dimatangkan. Hingga Jumat (18/9/2026), persiapan festival tahunan tersebut telah mencapai sekitar 60 persen.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Trenggalek, Toni Widianto, mengatakan seluruh divisi kepanitiaan terus melakukan persiapan menjelang pelaksanaan FJTT 2026.

“Karena tinggal beberapa hari, produksi terus dilakukan. Semua divisi jalan, divisi panggung dan divisi lainnya. Mungkin persiapannya sekitar lebih dari 50 persen, sudah 60 persen,” terang Toni Widianto, Jumat (18/9/2026).

FJTT 2026 dijadwalkan berlangsung selama sepekan, yakni 20–26 September 2026. Seluruh rangkaian kegiatan festival akan dilaksanakan pada malam hari.

FJTT tahun ini memiliki nilai penting karena untuk pertama kalinya masuk dalam kalender nasional Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang merupakan program Kementerian Pariwisata.

Toni menjelaskan, FJTT 2026 merupakan penyelenggaraan Festival Jaranan ke-30 di Kabupaten Trenggalek. Festival tersebut diajukan sebagai salah satu agenda KEN melalui proses kurasi bersama komunitas budaya.

“Alhamdulillah tahun ini kami masuk dari 113 event di seluruh Indonesia yang masuk Karisma Event Nusantara. Itu dihimpun dan dikurasi dari sekitar 3.000 event di seluruh Indonesia yang didaftarkan,” jelasnya.

Masuknya FJTT dalam KEN 2026 diharapkan dapat meningkatkan eksposur festival sekaligus memperkenalkan kesenian jaranan sebagai warisan budaya khas Trenggalek dan wilayah Mataraman.

Menurut Toni, salah satu pembeda FJTT 2026 dengan penyelenggaraan sebelumnya adalah cakupan kategori peserta yang lebih beragam.

Pengertian terbuka dalam FJTT tidak hanya merujuk pada kesenian Turonggo Yakso sebagai kesenian khas Trenggalek. Festival ini juga membuka kategori jaranan non-Turonggo Yakso yang dapat diikuti grup jaranan dari luar daerah.

Pada FJTT 2026 terdapat empat kategori yang dilombakan, yakni Turonggo Yakso Bocah untuk siswa sekolah dasar dengan 17 peserta, Turonggo Yakso Remaja untuk siswa sekolah menengah pertama dengan 17 peserta atau grup, serta dua kategori untuk tingkat SMA dan umum.

Dua kategori tersebut adalah Turonggo Yakso Umum dan Non-Turonggo Yakso SMA/Umum.

“Untuk kategori Turonggo Yakso Umum, terdapat 15 peserta,” jelasnya.

Sebagian besar peserta berasal dari Kabupaten Trenggalek, khususnya pada kategori pelajar. Sementara kategori umum juga diikuti sanggar atau grup jaranan dari sejumlah daerah di Jawa Timur.

Peserta tersebut antara lain berasal dari Surabaya, Batu, Malang, Blitar, Kediri, Ponorogo, dan Tulungagung.

Peserta kategori non-Turonggo Yakso akan menampilkan karakteristik jaranan dari daerah masing-masing.

“Yang non-Turonggo Yakso itu seperti jaranan Senterewe, jaranan Dor, jaranan Breng dan lain sebagainya,” terang Toni.

Selain perlombaan, FJTT 2026 juga dirangkaikan dengan pameran jaranan. Pameran tersebut tidak sekadar menampilkan benda atau informasi mengenai jaranan, tetapi juga mengangkat karakteristik budaya, sejarah, hingga perkembangan kesenian tersebut.

Disparbud Trenggalek juga menyiapkan sejumlah kegiatan pendukung berupa sarasehan dan sosialisasi.

“Nanti akan diisi dengan kegiatan sarasehan, ada sosialisasi dan seterusnya yang ini diharapkan menjadi bagian dari literasi dan edukasi kepada masyarakat,” bebernya.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Toni berharap masyarakat tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga dapat mengenal lebih jauh sejarah dan perkembangan kesenian jaranan.

Pihaknya juga mendorong para siswa untuk memanfaatkan momentum FJTT 2026 sebagai sarana mengenal warisan budaya daerah.

“Kami berharap siswa-siswa sekolah juga bisa memanfaatkan momen ini untuk mengenali warisan budaya Kabupaten Trenggalek dan wilayah Mataraman pada umumnya,” ujarnya.

Sementara itu, terkait penilaian lomba, Toni mengatakan seluruh ketentuan telah disampaikan kepada peserta melalui petunjuk teknis (juknis) dan rapat teknis.

Rapat teknis dilakukan sesuai kategori peserta untuk memberikan pemahaman mengenai ketentuan perlombaan.

Aspek penilaian antara lain gerak tari, penyajian, iringan musik, ekspresi, dan aspek teknis lainnya.

“Terutama dari aspek gerak, dari aspek gerak tari, kemudian penyajiannya seperti apa, dari sisi iringan musiknya seperti apa, kemudian dari sisi ekspresi dan seterusnya,” imbuhnya.

Toni menyebut detail teknis penilaian nantinya menjadi kewenangan dewan juri dan tim kebudayaan yang memahami aspek penilaian secara lebih mendalam.

Dalam penyelenggaraannya, FJTT 2026 merupakan bagian dari program tahunan Disparbud Kabupaten Trenggalek. Namun, karena tahun ini masuk dalam KEN, pelaksanaan FJTT juga mendapat dukungan dari pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Ini bagian dari program tahunan kita dari Disparbud Trenggalek. Tapi untuk pembiayaan tahun ini, karena masuk Karisma Event Nusantara, kita juga didukung dari Kementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan, serta dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim,” tutupnya. (qil/red)

Pos terkait