Festival Budaya Pertanian 2026 Satukan Tradisi dan Generasi Muda

Ribuan Pengunjung Padati Festival Budaya Pertanian 2026.
Ribuan Pengunjung Padati Festival Budaya Pertanian 2026.

LINTASJATIM.com, Malang – Sekitar 2.000 pengunjung memadati Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Rabu malam (26/8/2026), dalam Festival Budaya Pertanian 2026.

Festival bertema ‘Swara Bumi: Harmoni Generasi, Mengakar Tradisi’ tersebut memadukan pertanian, seni, budaya, dan kreativitas generasi muda. Kegiatan itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang mengenalkan kembali pertanian sebagai bagian dari tradisi dan identitas masyarakat.

Festival diselenggarakan Kementerian Budaya, Kepemudaan dan Olahraga BEM Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya Tahun 2026 bersama LKM Bengkel Seni FBiPK. Kegiatan dibuka untuk masyarakat umum sehingga pengunjung tidak hanya berasal dari lingkungan kampus.

Sejumlah pertunjukan seni bertema kehidupan pertanian ditampilkan dalam festival tersebut. Tari-tarian daerah menjadi salah satu medium untuk menunjukkan eratnya hubungan antara aktivitas pertanian, kebudayaan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Keterlibatan generasi muda terlihat melalui kehadiran Putra Putri Kebudayaan Jawa Timur Remaja. Mereka turut ambil bagian dalam rangkaian pertunjukan sekaligus menjadi representasi anak muda dalam mengenalkan keberagaman budaya Indonesia.

Pertunjukan Reog Ponorogo dari Sanggar Seni Sardulo Djoyo juga menjadi salah satu perhatian pengunjung. Kesenian tradisional tersebut membawa kekayaan budaya daerah ke tengah rangkaian Festival Budaya Pertanian 2026.

Daya tarik festival tidak hanya berada di atas panggung. Panitia turut menghadirkan Lorong Pertanian, ruang pengalaman yang dirancang untuk mendekatkan pengunjung dengan dunia pertanian melalui visual, lukisan, ornamen, dan suasana yang menggambarkan kehidupan masyarakat agraris.

Konsep tersebut menjadi pendekatan berbeda untuk memperkenalkan pertanian kepada generasi muda. Pertanian tidak hanya ditampilkan sebagai aktivitas menanam dan menghasilkan pangan, tetapi juga sebagai bagian dari tradisi, pengetahuan lokal, gotong royong, dan perjalanan kehidupan masyarakat.

Ketua Pelaksana Festival Budaya Pertanian 2026, Robitul Muharram Fatihurrohim, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperluas cara pandang masyarakat terhadap sektor pertanian.

“Harapannya, Festival Budaya Pertanian 2026 dapat memberikan pandangan bahwa pertanian bukan sekadar aktivitas menanam dan menghasilkan pangan, tetapi juga merupakan bagian dari tradisi, pengetahuan lokal, gotong royong, dan identitas masyarakat. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari identitas bangsa yang dapat menjadi kekuatan bagi Indonesia di masa depan,” ujar Robitul.

Menurutnya, pertanian memiliki keterikatan kuat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Berbagai tradisi dan pengetahuan lokal yang berkembang di dalamnya merupakan warisan yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Festival tersebut juga melibatkan berbagai unsur mahasiswa Universitas Brawijaya, termasuk mahasiswa yang bergerak di bidang seni dan olahraga. Kolaborasi itu memperluas ruang interaksi antara mahasiswa, masyarakat, komunitas, dan generasi muda.

Melalui pertunjukan seni dan Lorong Pertanian, Festival Budaya Pertanian 2026 berupaya menghadirkan sektor pertanian dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.

Pesan yang ingin disampaikan ialah modernisasi tidak harus membuat generasi muda kehilangan akar tradisi. Sebaliknya, nilai-nilai lokal dapat menjadi bagian dari kreativitas dan inovasi untuk menghadapi masa depan.

Festival Budaya Pertanian 2026 pun menjadi ruang pertemuan antara warisan budaya masa lalu, kreativitas generasi saat ini, dan harapan terhadap masa depan pertanian Indonesia. (Rif)

Pos terkait