LINTASJATIM.com, Jember – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Namun, pemanfaatan teknologi dinilai harus tetap berorientasi pada pembentukan manusia berilmu, berkarakter, dan berakhlak.
Pandangan tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Islam Jember (UIJ), Prof. Dr. Dra. Hj. Hamdanah Utsman, M.Hum., CPLA, dalam gagasannya mengenai rekonstruksi pendidikan Islam di tengah perkembangan teknologi.
Menurut Prof. Hamdanah, transformasi pendidikan Islam tidak cukup hanya dengan memasukkan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Perubahan juga harus mempertimbangkan karakter, tradisi, serta kebutuhan masing-masing lembaga pendidikan.
“Setiap lembaga membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan masing-masing,” kata Prof. Hamdanah.
Ia menjelaskan, pesantren, madrasah, dan sekolah umum memiliki sejarah serta kultur yang berbeda. Karena itu, model pendidikan yang berhasil di suatu lembaga tidak dapat diterapkan secara langsung di lembaga lain tanpa mempertimbangkan konteksnya.
Pandangan tersebut juga berkaitan dengan tantangan modernisasi pesantren. Menurutnya, modernisasi tidak harus dimaknai sebagai meninggalkan tradisi. Pesantren tetap dapat berinovasi dengan mempertahankan tradisi keilmuan dan nilai spiritual yang menjadi karakter utamanya.
Selain transformasi pendidikan, Prof. Hamdanah turut menyoroti isu keadilan gender. Ia berpandangan bahwa kesempatan untuk belajar, berprestasi, memimpin, dan mengabdi tidak semestinya dibatasi berdasarkan jenis kelamin.
Menurutnya, kapasitas, ilmu, ketakwaan, integritas, serta kemampuan memberikan manfaat harus menjadi pertimbangan utama. Dalam lingkungan pesantren, perempuan juga memiliki ruang untuk berperan sebagai pendidik, penggerak perubahan sosial, fasilitator, pemimpin, hingga konsultan psikologis.
Pemikiran mengenai perempuan, gender, dan pesantren menjadi bagian dari perjalanan akademik Prof. Hamdanah. Sejumlah karyanya membahas kesehatan reproduksi perempuan, poligami, gender, hak-hak perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga pemberdayaan perempuan berbasis kebijakan publik.
Dalam perkembangannya, perhatian akademiknya meluas ke bidang manajemen pendidikan, kepemimpinan spiritual, kurikulum, pendidikan digital, dan AI.
Prof. Hamdanah menilai AI memiliki potensi besar untuk mendukung proses pembelajaran, pengelolaan informasi, evaluasi, hingga manajemen pendidikan. Namun, teknologi tidak boleh ditempatkan sebagai pengganti peran manusia.
“Teknologi hanyalah alat. Tujuan pendidikan tetap berada di tangan manusia,” ujarnya.
Karena itu, penerapan AI dalam pendidikan Islam harus tetap berpijak pada iman, ilmu, moralitas, dan hikmah. Teknologi dapat membantu memperoleh informasi dan meningkatkan efisiensi, tetapi pembentukan karakter dan akhlak tetap menjadi tanggung jawab pendidikan.
Gagasan tersebut juga dituangkan dalam karya akademiknya berjudul Manajemen Pendidikan Islam Berbasis Artificial Intelligence. Karya itu menjadi salah satu upayanya mempertemukan perkembangan teknologi dengan prinsip-prinsip manajemen pendidikan Islam.
Prof. Hamdanah menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Tarbiyah IAIN Jember, S2 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, dan S3 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember.
Selain menjadi Guru Besar UIJ, ia tercatat sebagai dosen Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember.
Deretan karya akademiknya menunjukkan perhatian terhadap isu perempuan, pesantren, pendidikan, kebijakan publik, manajemen, hingga teknologi. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, ia mendorong lembaga pendidikan Islam agar tidak alergi terhadap AI, tetapi juga tidak menyerahkan arah pendidikan kepada teknologi.
Pendidikan Islam, menurut Prof. Hamdanah, harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan akar. AI dapat dimanfaatkan untuk memperkuat proses pendidikan, tetapi nilai, akhlak, tradisi keilmuan, dan kemanusiaan harus tetap menjadi fondasinya.
Sebab, tantangan pendidikan di era AI bukan sekadar mencetak manusia yang mampu menggunakan teknologi. Lebih dari itu, pendidikan harus memastikan teknologi digunakan untuk membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab.





