LINTASJATIM.com, Jember – Ada kegelisahan menarik di balik buku “Sufipreneur: Tekun Beribadah, Giat Berwirausaha” karya Doni Ekasaputra. Kegelisahan itu berangkat dari pertanyaan sederhana: apakah seorang Muslim harus menjauh dari dunia untuk mendekat kepada Tuhan?
Buku ini menawarkan jawaban berbeda. Tasawuf tidak selalu berarti meninggalkan aktivitas ekonomi. Begitu pula kekayaan tidak otomatis membuat seseorang jauh dari Allah. Persoalannya bukan seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan sejauh mana harta tersebut menguasai hati.
Doni Ekasaputra, Owner Adeeva Group, alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang kini berkiprah sebagai dosen dan penulis, menghadirkan gagasan “sufipreneur” dari pertemuan tradisi pesantren, pengalaman berwirausaha, dan refleksi akademik.
Karena itu, buku ini tidak sekadar membahas bisnis Islami. Lebih jauh, buku tersebut mengajak pembaca merenungkan bagaimana seorang Muslim bekerja, memperoleh harta, dan menempatkan kekayaan dalam kehidupannya.
Salah satu bagian menarik dalam buku tersebut adalah dawuh almarhum Kiai Abu Zairi, “Engkok terro endik santreh se sufiy, se numpa’ mobil Alphard.” Artinya, “Saya ingin memiliki santri yang sufi, tetapi naik mobil Alphard.”
Pernyataan tersebut seolah mempertemukan dua hal yang selama ini kerap dianggap bertolak belakang. Sufi identik dengan kesederhanaan spiritual, sedangkan mobil mewah kerap diasosiasikan dengan kemapanan material.
Namun, dari paradoks tersebut, penulis mengajak pembaca memahami kembali makna zuhud. Zuhud bukan berarti tidak memiliki harta, melainkan kemampuan untuk memiliki tanpa diperbudak oleh kepemilikan.
Harta boleh berada di tangan, tetapi tidak seharusnya bertahta di hati. Prinsip inilah yang kemudian dibawa ke dalam realitas kewirausahaan.
Tasawuf tidak hanya dibahas melalui konsep takhalli, tahalli, wara’, mujahadah, dan riyadhah, tetapi juga ditempatkan dalam kehidupan bisnis. Pasar menjadi ruang pengujian akhlak bagi seorang pengusaha.
Kejujuran diuji ketika kebohongan berpotensi menghasilkan keuntungan. Wara’ diuji ketika muncul peluang bisnis yang berada di wilayah abu-abu. Tawakal diuji ketika usaha tidak berjalan sesuai rencana. Sementara zuhud diuji ketika keuntungan telah berada di tangan.
Di titik tersebut, Sufipreneur menjadi lebih dari sekadar buku kewirausahaan. Buku ini berbicara tentang karakter manusia ketika berhadapan dengan peluang untuk mendapatkan keuntungan.
Penulis juga menghadirkan Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan ulama sebagai teladan bahwa kerja keras dan kedalaman spiritual bukan dua jalan yang harus dipilih salah satunya.
Bekerja dapat menjadi mujahadah, mencari nafkah dapat bernilai ibadah, dan keuntungan dapat menjadi jalan menuju kemaslahatan selama diperoleh melalui cara yang benar.
Buku ini juga tidak mengajak pembaca memusuhi keuntungan. Keuntungan tetap memiliki tempat dalam kewirausahaan, tetapi harus berada dalam koridor kehalalan, keadilan, dan kemaslahatan.
Karena itu, pertanyaan seorang pengusaha tidak cukup berhenti pada “berapa banyak yang saya dapat?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah dari mana keuntungan diperoleh, bagaimana cara mendapatkannya, dan untuk apa keuntungan tersebut digunakan.
Gagasan sufipreneur tentu masih terbuka untuk dikaji lebih mendalam secara akademik, terutama mengenai batas konsep serta perbedaannya dengan Islamic entrepreneurship dan ethical entrepreneurship. Namun, ruang tersebut justru membuat buku ini menarik untuk didiskusikan lebih lanjut.
Pada akhirnya, Sufipreneur menyampaikan pesan sederhana: menjadi kaya bukanlah persoalan. Yang berbahaya adalah ketika kekayaan membuat manusia kehilangan kemerdekaan jiwanya.
Buku ini layak dibaca pengusaha, santri, mahasiswa, akademisi, maupun masyarakat yang ingin memahami hubungan antara kerja, kekayaan, dan spiritualitas Islam.
Sebab, bekerja keras dan mendekat kepada Allah tidak harus berada di jalan yang berbeda. Jalan menuju Tuhan tidak selalu berarti menjauh dari pasar. Bisa jadi, justru di tengah hiruk-pikuk pasar itulah kualitas hati seorang manusia sedang diuji.
Data Buku
- Judul: Sufipreneur: Tekun Beribadah, Giat Berwirausaha
- Penulis: Doni Ekasaputra
- Pengantar ahli: Dr. Abdul Wahab Ahmad, M.H.I. dan Dr. (HC) K.H. Afifuddin Muhajir, M.Ag.
- Penerbit: Madani, Malang
- Cetakan: Pertama, Juni 2026
- Tebal: xxvi + 170 halaman
- ISBN: 978-623-8042-69-2
- Kategori: Ekonomi Islam, Tasawuf, Kewirausahaan





