Mabarrot MWCNU Panggul Rawat ODGJ hingga Bedah Rumah

Lembaga Mabarrot MWCNU Panggul Trenggalek melakukan aksi sosial jemput bola warga yang sakit. (Dokumen Mabarrot)
Lembaga Mabarrot MWCNU Panggul Trenggalek melakukan aksi sosial jemput bola warga yang sakit. (Dokumen Mabarrot)

LINTASJATIM.com, Trenggalek – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Panggul, Kabupaten Trenggalek, terus memperkuat kiprahnya di bidang sosial, kesehatan, lingkungan, dan kebencanaan melalui Lembaga Mabarrot.

Sejak dibentuk pada 2025, lembaga ini aktif mendampingi warga, mulai dari mengantar pasien berobat, menangani Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), hingga membangun rumah layak huni bagi masyarakat kurang mampu.

Bacaan Lainnya

Ketua Lembaga Mabarrot MWCNU Panggul, Eko Margono, mengatakan lembaga yang dipimpinnya berfokus pada empat bidang utama, yakni sosial, kesehatan, pelestarian lingkungan hidup, dan kebencanaan.

“Kami berupaya semaksimal mungkin memberikan perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan,” ujar Eko kepada wartawan, Rabu (22/7/2026).

Di bidang kesehatan, Mabarrot telah mendampingi pengobatan 18 ODGJ ke rumah sakit. Dari jumlah tersebut, 16 orang dinyatakan pulih, sedangkan dua lainnya masih membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

“Dua orang belum sembuh karena kurangnya perawatan sehari-hari di rumah. Mereka tidak memiliki keluarga yang mendampingi, sehingga pengawasan konsumsi obat dan dukungan psikologis tidak berjalan optimal,” jelasnya.

Menurut Eko, kedua pasien tersebut akan kembali menjalani pengobatan dengan syarat keluarga maupun warga sekitar ikut berperan aktif mengawasi proses pemulihan mereka.

Selain pendampingan kesehatan, Mabarrot juga menjalankan program bedah rumah. Hingga kini, dua rumah telah dibangun, yakni rumah milik korban tanah longsor dan rumah warga yang kondisinya sudah tidak layak huni serta membahayakan penghuninya.

Di sektor kebencanaan, relawan Mabarrot turut terlibat dalam kegiatan bakti sosial, termasuk membersihkan material longsor yang menimpa rumah warga di Desa Barang.

Komitmen terhadap pelestarian lingkungan juga diwujudkan melalui penanaman mangrove dan aksi bersih-bersih di Pantai Kili-Kili serta Pantai Konang.

“Kami ingin menginspirasi masyarakat bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama di tengah ancaman pemanasan global,” katanya.

Eko menambahkan, meningkatnya kepedulian masyarakat mendorong lahirnya program Koin Sosial di sejumlah ranting NU. Program tersebut mengajak warga menyisihkan dana secara sukarela yang dikelola di tingkat desa untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

“Kami sengaja menggunakan nama Koin Sosial agar masyarakat memahami bahwa manfaatnya tidak hanya untuk warga NU, tetapi terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, NU Care-LAZISNU di tingkat MWCNU berfokus menghimpun zakat, infak, dan sedekah untuk mendukung program kelembagaan. Sementara itu, Koin Sosial dikelola secara mandiri oleh masyarakat di tingkat ranting melalui kotak amal yang ditempatkan di rumah-rumah warga.

Peran Mabarrot, lanjut Eko, adalah menginisiasi gerakan, menyusun sistem penyaluran, serta memastikan pengelolaan dana dilakukan secara transparan dan akuntabel.

“Masyarakat harus mengetahui bahwa dana yang mereka kumpulkan benar-benar dimanfaatkan untuk membantu tetangga yang membutuhkan maupun anak-anak yatim di sekitar mereka,” katanya.

Saat ini, program bedah rumah masih berlangsung di Desa Gayam dan Desa Panggul.

Program Koin Sosial sendiri telah berjalan di lima ranting, yakni Desa Sawahan, Bodag, Barang, Gayam, dan Wonocoyo. Dana yang terkumpul setiap bulan digunakan untuk berbagai kegiatan sosial, seperti santunan anak yatim, bantuan bagi kaum duafa, operasional musala, kegiatan lingkungan hidup, hingga mendukung aktivitas keagamaan.

Menurut Eko, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Di Ranting Bodag, dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta per bulan. Desa Barang menghimpun sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta, sedangkan Desa Sawahan mencapai Rp7 juta hingga Rp8 juta setiap bulan.

Sementara itu, Desa Gayam sebagai pelopor program Koin Sosial dinilai telah berhasil membangun budaya gotong royong yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Eko berharap seluruh 17 desa di Kecamatan Panggul dapat menerapkan program serupa sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.

“Harapan kami, seluruh desa di Kecamatan Panggul bisa bergerak bersama menjalankan Koin Sosial sehingga keberadaan warga Nahdliyin benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan,” pungkasnya.

Pos terkait