LINTASJATIM.com, Surabaya – Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur menggelar program pembinaan spiritual bagi lebih dari 450 penyintas orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), penyandang disabilitas, serta mantan pecandu narkoba yang menjalani proses rehabilitasi di sebuah yayasan milik Purnomo di Surabaya, selama bulan Ramadan.
Program tersebut menghadirkan berbagai kegiatan keagamaan berbasis Al-Qur’an, mulai dari tahsin Al-Fatihah, salat berjamaah, hingga buka puasa bersama. Kegiatan ini bertujuan menghadirkan ketenangan batin sekaligus mendukung proses pemulihan spiritual para penghuni yayasan.
Program dakwah ini merupakan hasil kolaborasi antara LAZNAS PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur dengan Purnomo, sosok yang dikenal sebagai ‘Polisi Baik’. Selama hampir satu dekade terakhir, Purnomo aktif mengembangkan gerakan sosial dan dakwah Qur’ani di lingkungan yayasan yang ia kelola.
Kepala Perwakilan PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur, Diah Fitriatus Sholihah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah kelompok masyarakat yang kerap terpinggirkan.
“Gerakan ini kami hadirkan dengan semangat menghidupkan cahaya Al-Qur’an di ruang-ruang kehidupan yang sering kali tidak tersentuh,” ujarnya.
Dalam program tersebut, para relawan dan dai muda turut terlibat dalam membimbing para penghuni yayasan. Selain pelatihan tahsin Al-Qur’an, kegiatan juga meliputi salat Magrib berjamaah, menghadirkan imam muda untuk salat Jumat, serta kegiatan berbuka puasa bersama selama Ramadan.
Purnomo mengaku perjalanan mengelola yayasan tersebut tidak selalu mudah. Namun ia meyakini bahwa kekuatan untuk terus bertahan datang dari proses belajar yang tidak pernah berhenti.
“Nama ‘Polisi Belajar Baik’ itu sebenarnya menjadi visi hidup saya. Kenapa bisa bertahan? Karena terus belajar. Tidak semua orang dipilih Allah untuk melakukan hal seperti ini,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa dalam perjalanannya menghadapi berbagai ujian, mulai dari persoalan keluarga hingga kesulitan finansial. Namun menurutnya, banyak hal yang akhirnya dapat dilalui berkat pertolongan Allah.
“Kadang kita merasa tidak kuat, tetapi ternyata kita kuat. Itu berarti ada campur tangan Allah. Ketika kita melakukan kebaikan, Allah yang mencukupi,” tuturnya.
Purnomo memilih membantu para penyintas gangguan jiwa dan pecandu narkoba karena ingin melatih keikhlasan dalam berbuat baik tanpa mengharapkan balasan.
“Kenapa memilih orang dengan gangguan jiwa? Karena mereka tidak punya potensi membalas. Di situlah kita belajar ikhlas,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Menurutnya, Al-Qur’an ibarat peta kehidupan yang mampu menuntun manusia menuju kebaikan.
“Kalau kita percaya pada peta buatan manusia seperti Google Maps untuk menemukan jalan, seharusnya kita lebih percaya lagi pada ‘peta’ yang Allah berikan, yaitu Al-Qur’an,” ujarnya.
Melalui program pembinaan spiritual ini, PPPA Daarul Qur’an Jawa Timur berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk mendukung upaya pemulihan para penyintas melalui pendekatan keagamaan.
Program tersebut juga menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi sumber kekuatan, ketenangan, dan harapan, bahkan bagi mereka yang berada di titik kehidupan paling rapuh.





