PKBM Tunas Pratama Blitar Gencarkan Solusi Ekonomi Kreatif Lewat Sablon DTF

Kampanye mudah untuk memulai berbisnis di Blitar. (Dokumen Pribadi)
Kampanye mudah untuk memulai berbisnis di Blitar. (Dokumen Pribadi)

LINTASJATIM.com, Blitar – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Pratama Kota Blitar menggelar pelatihan sablon dengan teknik Direct to Film (DTF) bagi puluhan warga belajar.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengampanyekan kemudahan meraup pendapatan melalui kreativitas yang dapat dikerjakan bahkan dari dalam kamar tidur.

Bacaan Lainnya

Kepala Sekolah PKBM Tunas Pratama, Joko Pramono, mengungkapkan bahwa momentum ini sangat tepat mengingat masyarakat akan segera menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Ia berharap pelatihan tersebut mampu meningkatkan kreativitas sekaligus mengangkat derajat ekonomi para warga belajar dengan proses produksi yang tergolong praktis.

“Cuma modal setrika di rumah, bisa jadi cuan dan ekonomi naik level,” terang Joko, Jumat (13/3/2026).

Joko menambahkan pelatihan ini juga ditujukan untuk memacu semangat para warga belajar, sekaligus mematahkan stigma bahwa memulai usaha selalu membutuhkan modal besar.

Menurutnya, pemahaman mengenai bisnis kaus kustom sering kali dianggap memerlukan mesin berharga jutaan rupiah, namun pihaknya ingin membongkar rahasia efisiensi melalui teknik DTF.

Tak hanya ingin menggugah semangat para warga belajar yang didominasi generasi muda, Joko menegaskan bahwa kegiatan tersebut mengandung misi besar untuk menggelorakan ekonomi kreatif yang berbasis kerakyatan.

“Membangun kemandirian ekonomi Kota Blitar lewat tangan-tangan kreatif anak muda, sehingga bisa mandiri, kreatif, dan nasionalis,” papar Joko.

Inovasi Sablon DTF: Solusi Praktis bagi Generasi Z

Teknik DTF sendiri merupakan salah satu metode sablon sederhana yang dinilai efektif. Hasil cetakannya memiliki kualitas memuaskan dan nilai jual yang kompetitif jika dibandingkan dengan sablon manual konvensional.

Praktisi sablon DTF asal Blitar, Oeddin Izzoel Haq, menjelaskan bahwa teknik ini merupakan terobosan baru bagi anak muda.

Ia menyebutkan bahwa perbedaan mencolok antara sablon manual dan DTF terletak pada efisiensi alat. Jika sablon manual membutuhkan peralatan yang banyak, DTF justru jauh lebih ringkas.

“Bedanya sama sablon manual yang butuh banyak alat, teknik DTF ini beneran game changer buat Gen Z. Cukup pakai stiker cetakan khusus dan setrika rumah tangga, desain keren langsung nempel di kaus atau tas,” ulas Izzoel.

Selain teknisnya yang sederhana, Izzoel melanjutkan bahwa teknik sablon DTF tidak memerlukan ruang produksi yang luas. Hal ini memungkinkan siapa saja untuk memulai usaha dari skala rumah tangga.

Ia menyatakan bahwa modal utama yang dibutuhkan hanyalah ide kreatif, dan seluruh proses pengerjaan dapat dilakukan dari dalam kamar tidur.

Memanfaatkan Momentum Lebaran

Di hadapan para peserta, Izzoel mengingatkan bahwa saat ini adalah waktu yang paling tepat untuk memulai bisnis tersebut. Menjelang Hari Raya Idulfitri, permintaan pasar terhadap pakaian baru dan menarik biasanya melonjak tajam.

Izzoel mengatakan bahwa keterampilan sablon DTF merupakan jalan pintas (shortcut) yang paling masuk akal bagi anak muda yang ingin memiliki penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan hobi mereka.

“Selain bisa bikin jenama (brand) sendiri, kita juga ikut berkontribusi buat kemajuan ekonomi lokal. Apalagi saat ini mendekati Lebaran, inilah saatnya kita mulai,” jelas Izzoel. (jaz/red)

Pos terkait