LINTASJATIM.com, Jember – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digagas dengan premis yang rasional: anak yang sehat dinilai lebih siap mengikuti proses belajar.
Data Survei Status Gizi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan prevalensi stunting nasional masih berada di kisaran lebih dari 20 persen meski trennya menurun. Artinya, persoalan gizi masih menjadi pekerjaan rumah serius.
Dalam konteks itu, intervensi negara melalui program makan di sekolah memiliki dasar kebijakan yang kuat. Namun, sejumlah kalangan menilai pembangunan pendidikan tidak bisa semata ditopang oleh intervensi nutrisi.
Pendidikan, menurut berbagai pakar, bertumpu pada kualitas interaksi dan pengajaran. Laporan McKinsey (2007) menegaskan bahwa mutu sistem pendidikan tidak akan melampaui kualitas gurunya.
Negara-negara dengan capaian pendidikan tinggi seperti Finlandia, Singapura, dan Korea Selatan memulai reformasi dari seleksi ketat calon guru, peningkatan kesejahteraan, serta pengembangan profesional berkelanjutan.
Ekonom pendidikan Stanford University, Eric Hanushek, dalam sejumlah penelitiannya juga menunjukkan kualitas guru berdampak signifikan terhadap prestasi akademik siswa hingga pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Guru efektif disebut bukan hanya meningkatkan nilai ujian, tetapi juga produktivitas generasi masa depan.
Di Indonesia, tantangan struktural profesi guru dinilai masih kompleks. Distribusi tenaga pendidik belum merata, kesejahteraan guru honorer belum stabil, dan beban administratif kerap mengurangi fokus pengajaran. Pelatihan berkelanjutan pun belum sepenuhnya terintegrasi dengan kebutuhan di lapangan.
Sejumlah pemikir pendidikan turut menekankan sentralnya peran guru. Ki Hajar Dewantara menyebut pendidikan sebagai proses memerdekakan manusia.
Maria Montessori menegaskan tugas guru adalah membangkitkan potensi anak, sementara John Dewey menyatakan pendidikan merupakan kehidupan itu sendiri. Pandangan-pandangan tersebut menempatkan guru sebagai aktor utama dalam transformasi pendidikan.
Berbagai riset memang menunjukkan program makan di sekolah dapat meningkatkan kehadiran dan konsentrasi siswa. Namun, dampaknya terhadap mutu pembelajaran sangat bergantung pada kualitas pengajaran di kelas.
Nutrisi dinilai sebagai prasyarat biologis, sementara capaian akademik tetap ditentukan oleh efektivitas guru.
Dari sisi fiskal, program berskala nasional seperti MBG membutuhkan desain pembiayaan berkelanjutan. Dalam situasi ekonomi yang fluktuatif, penguatan profesi guru dikhawatirkan tidak menjadi prioritas apabila tekanan anggaran meningkat.
Pengamat pendidikan juga menilai MBG memiliki daya tarik simbolik karena konkret dan mudah dipahami publik. Namun, arah kebijakan pendidikan jangka panjang dinilai perlu bertumpu pada variabel yang paling menentukan kualitas sistem, yakni kompetensi dan kesejahteraan guru.
MBG dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan manusia. Meski demikian, tanpa penguatan sistematis terhadap profesi guru, pembangunan pendidikan berpotensi kehilangan titik beratnya.
Anak yang sehat memang memiliki peluang lebih baik untuk belajar, tetapi capaian pendidikan tetap bergantung pada kualitas pendidik yang membimbingnya.





