Tradisi Kupatan di Masjid Al Akbar Blitar, Warga Gelar Syukuran Perkuat Silaturahmi Pasca Lebaran

LINTASJATIM.com, Blitar – Puluhan warga menggelar tradisi kupatan di Masjid Al Akbar, Desa Maron, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Kegiatan rutin yang digelar setiap memasuki hari ketujuh setelah Lebaran ini menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga sekaligus melestarikan warisan budaya lokal.

Yaoma Tertebi, pengurus masjid Al Akbar menjelaskan bahwa tradisi kupatan merupakan budaya lama yang mulai tergerus zaman. “Ini adalah budaya lama yang sudah mulai hilang dan sekarang coba kita hidupkan kembali agar bisa meningkatkan kerukunan masyarakat. Karena waktu silaturahmi sekarang banyak terpangkas,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Kegiatan kupatan ini melibatkan seluruh jemaah masjid, aparat Desa Maron, dan masyarakat sekitar. Tidak hanya warga setempat, pengurus masjid juga mempersilakan para pengendara yang melintas untuk berhenti dan menikmati sajian kuliner khas.

Kuliner yang disajikan pun khas masakan desa, yakni ketupat, sayur rebung, lodho ayam kampung, hingga sambal goreng. Hidangan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang hadir.

Yaoma yang juga Wakil Rektor UNU Blitar menjelaskan makna filosofis di balik tradisi kupatan. “Kupatan berasal dari kata ‘ngaku lepat’ atau mengaku salah dan saling memaafkan. Ini merupakan akulturasi budaya yang dibawa oleh para wali songo dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa,” jelasnya.

Harapan ke depan, kegiatan ini dapat terus berkembang di Desa Maron dan bahkan menjadi kegiatan bernilai wisata yang dapat menarik pengunjung dari luar daerah. Tradisi kupatan menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Blitar sebagai bagian dari kekayaan budaya sekaligus wadah memperkuat persaudaraan pasca hari raya Idul Fitri.

Pos terkait