LINTASJATIM.com, Bangkalan – Pusat Studi Program Studi Pendidikan Informatika (PIF) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar Seminar Peningkatan Kompetensi Mahasiswa dan Siswa bertajuk ‘AI-duino Laboratorium: Rancang Bangun Prototype Berbasis STEM’, Rabu (4/11/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Sistem Informasi Pendidikan UTM mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB tersebut bertujuan mengenalkan sekaligus meningkatkan keterampilan peserta dalam bidang teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), mikrokontroler Arduino, dan pengembangan prototype berbasis STEM.
Seminar ini menghadirkan dua narasumber, yakni Muhammad Imron Romadhon, M.Pd., dosen Pendidikan Informatika UTM, serta Arief Budiyanto, S.Kom., M.Pd., Direktur CV Madura Technovation.
Sebanyak 16 siswa dari delapan SMA/SMK, guru pendamping, mahasiswa Pendidikan Informatika, dan dosen mengikuti kegiatan tersebut. Program ini menjadi salah satu inisiatif Pusat Studi PIF UTM untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa sekaligus memperkenalkan perkembangan teknologi kepada generasi muda.
Kegiatan dibuka oleh Koordinator Program Studi Pendidikan Informatika UTM, Puji Rahayu Ningsih, S.Pd., M.Pd. Selanjutnya, peserta mengikuti tiga agenda utama, yaitu pemaparan materi, pameran karya prototype, dan pelatihan perancangan prototype.
Dalam pemaparannya, Muhammad Imron Romadhon menegaskan bahwa pembelajaran teknologi tidak sekadar mengenalkan perangkat canggih. Lebih dari itu, proses tersebut perlu membangun pola pikir kritis, kreatif, dan solutif dalam menghadapi berbagai persoalan.
“Kami tidak sedang mengajarkan atau menggunakan alat canggih, kami sedang menanamkan cara berpikir,” ujar Muhammad Imron Romadhon yang juga bertindak sebagai ketua pelaksana sekaligus pemateri pelatihan AI dan Arduino.
Ia menjelaskan, prinsip dasar Arduino dan Internet of Things (IoT), yakni input, proses, dan output, dapat dianalogikan dengan proses kehidupan manusia. Pengetahuan yang diterima perlu diolah melalui nalar agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
“Isi diri dengan ilmu, olah dengan nalar, lalu keluarkan sebagai manfaat. IoT mengajarkan agar ilmu harus terhubung dan dibagikan agar dirasakan banyak orang lain. Teknologi baru bermakna ketika ia mampu menyelesaikan masalah di sekitar kita, bukan menambah masalah baru,” tambahnya.
Pada sesi pertama, Muhammad Imron Romadhon bersama tim Pusat Studi PIF menyampaikan materi tentang pengembangan teknologi berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Pemaparan berlangsung sekitar satu jam dan dilanjutkan dengan diskusi serta tanya jawab.
Setelah memperoleh pembekalan, peserta diajak mengunjungi pameran prototype yang disiapkan Pusat Studi PIF. Mereka berkesempatan mengamati berbagai hasil pengembangan teknologi sekaligus mendapatkan penjelasan mengenai fungsi, komponen, dan mekanisme kerja setiap perangkat.
Beragam karya yang dipamerkan tersebut menjadi sarana pembelajaran untuk memahami penerapan konsep teknologi dalam bentuk produk nyata. Selain itu, peserta juga memperoleh inspirasi untuk mengembangkan inovasi serupa.
Antusiasme peserta berlanjut pada sesi praktik yang dipandu Arief Budiyanto. Selama kurang lebih dua jam, peserta mendapatkan kesempatan merancang dan merakit prototype dengan pendampingan narasumber, tim Pusat Studi PIF, serta asisten riset.
Dalam sesi tersebut, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk merangkai komponen elektronika, di antaranya Arduino Uno, breadboard, kabel jumper, dan motor servo.
Komponen tersebut dirangkai sesuai instruksi, kemudian dihubungkan ke komputer untuk diprogram agar dapat menjalankan fungsi yang diharapkan.
Melalui praktik langsung, peserta tidak hanya mengenal berbagai komponen elektronika, tetapi juga memahami keterkaitan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software).
Proses perancangan dan perakitan tersebut sekaligus melatih kemampuan berpikir logis, memecahkan masalah, mengembangkan kreativitas, serta bekerja sama dalam tim.
Pendekatan STEM dalam kegiatan ini mengintegrasikan pengetahuan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika. Peserta diajak memahami bahwa teknologi tidak cukup dipelajari melalui teori, tetapi juga perlu dikembangkan melalui perancangan dan eksperimen.
Seluruh rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 13.00 WIB. Selama lima jam pelaksanaan, peserta mendapatkan pengalaman belajar mulai dari memahami konsep dasar, mengamati karya prototype, hingga merakit dan memprogram perangkat Arduino secara langsung.
Melalui program AI-duino Laboratorium, Pusat Studi PIF UTM berharap dapat meningkatkan minat dan kompetensi generasi muda dalam bidang teknologi, khususnya pengembangan perangkat berbasis mikrokontroler dan penerapan pendekatan STEM.
Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal bagi siswa dan mahasiswa untuk terus mengembangkan kreativitas, menghasilkan karya inovatif, serta menciptakan prototype teknologi yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Pusat Studi PIF UTM berkomitmen menghadirkan kegiatan edukatif dan kolaboratif secara berkelanjutan sebagai upaya menghubungkan dunia pendidikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.





