LINTASJATIM.com, Tulungagung – Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU Tulungagung) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Kampus tersebut resmi meraih predikat Silver dalam Sustainability Tracking, Assessment & Rating System (AASHE STARS).
Capaian tersebut menjadikan UIN SATU Tulungagung tercatat sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang meraih predikat Silver AASHE STARS.
AASHE STARS merupakan sistem penilaian keberlanjutan internasional bagi perguruan tinggi yang dikembangkan oleh Association for the Advancement of Sustainability in Higher Education (AASHE), organisasi nirlaba independen yang berbasis di Amerika Serikat.
Berbeda dengan sistem pemeringkatan yang menyusun perguruan tinggi berdasarkan urutan peringkat, STARS menggunakan pendekatan berbasis skor atau peringkat. Perguruan tinggi mengumpulkan data dan bukti terkait berbagai praktik keberlanjutan yang diterapkan, kemudian memperoleh predikat berdasarkan capaian skor.
Predikat dalam sistem tersebut terdiri atas Bronze, Silver, Gold, hingga Platinum.
Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Abd. Aziz, menegaskan capaian tersebut bukan sekadar keberhasilan memenuhi standar penilaian internasional. Menurutnya, gerakan kampus hijau merupakan bagian dari visi besar UIN SATU untuk memadukan kualitas pendidikan, kepedulian terhadap lingkungan, dan penguatan karakter berbasis nilai-nilai Islam.
“Inisiatif kampus hijau ini bukan sekadar proyek fisik atau slogan, melainkan visi besar yang memadukan pendidikan berkualitas, kepedulian lingkungan, dan penguatan karakter berbasis nilai-nilai Islam atau eko-teologi. Ini adalah komitmen kami untuk melahirkan generasi yang cerdas, religius, sekaligus sadar lingkungan,” ujar Prof. Abd. Aziz.
Predikat Silver AASHE STARS menjadi tonggak bagi UIN SATU Tulungagung dalam memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan. Capaian tersebut sekaligus membawa nama kampus masuk dalam jejaring perguruan tinggi dunia yang menerapkan standar keberlanjutan secara komprehensif dan terukur.
Penilaian AASHE STARS mencakup berbagai aspek dan tidak hanya berfokus pada kondisi fisik lingkungan kampus. Sistem tersebut juga menilai integrasi keberlanjutan dalam aktivitas akademik, penelitian, keterlibatan sivitas akademika, hingga aspek sosial dan keadilan di lingkungan perguruan tinggi.
Pada aspek operasional, penilaian mencakup upaya pengurangan emisi, efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, pengelolaan air, pengurangan dan pengelolaan sampah, serta pengembangan ruang terbuka hijau.
Sementara dalam bidang akademik dan penelitian, penilaian melihat sejauh mana isu lingkungan dan perubahan iklim diintegrasikan dalam pembelajaran maupun kegiatan riset.
Keterlibatan sivitas akademika juga menjadi bagian penting dalam penilaian. Partisipasi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dalam berbagai program keberlanjutan menjadi indikator dalam membangun budaya kampus yang ramah lingkungan.
Aspek sosial turut menjadi perhatian, antara lain kesejahteraan tenaga kerja, keadilan sosial, serta penyediaan lingkungan kampus yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Di lingkungan UIN SATU Tulungagung, komitmen tersebut dikembangkan melalui program ReliGreen dengan semangat Sustainable Minds, Greener Futures. Program ini menjadi bagian dari upaya kampus membangun ekosistem perguruan tinggi yang lebih hijau melalui penataan ruang terbuka hijau, efisiensi energi, pengelolaan air, serta berbagai inisiatif lingkungan lainnya.
ReliGreen juga menjadi ruang untuk mengintegrasikan agenda keberlanjutan dengan karakter UIN SATU sebagai perguruan tinggi Islam. Perspektif eko-teologi menjadi salah satu landasan untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan manusia.
Predikat Silver AASHE STARS yang diraih UIN SATU Tulungagung berlaku hingga 1 Oktober 2029. Capaian tersebut menjadi pijakan bagi kampus untuk terus meningkatkan kinerja keberlanjutannya menuju tingkat yang lebih tinggi.
Keikutsertaan UIN SATU dalam AASHE STARS juga menjadi langkah penting di tengah penggunaan instrumen penilaian keberlanjutan yang lebih dikenal di Indonesia, seperti UI GreenMetric. Keputusan tersebut menunjukkan upaya kampus mengukur kinerja keberlanjutannya melalui instrumen internasional dengan cakupan penilaian yang luas.
Bagi UIN SATU Tulungagung, predikat Silver bukanlah tujuan akhir. Capaian tersebut menjadi momentum untuk membangun budaya keberlanjutan yang semakin kuat di lingkungan kampus.
Konsep kampus hijau di UIN SATU tidak berhenti pada pembangunan ruang terbuka hijau atau penggunaan teknologi ramah lingkungan. Lebih jauh, konsep tersebut diarahkan untuk membangun pola pikir, budaya akademik, tata kelola kelembagaan, serta karakter sivitas akademika yang menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari kehidupan perguruan tinggi. (qil/red)





