Pelepasan Siswa MI Pakis Usung Tradisi Jawa dan Sungkeman

Pelepasan siswa-siswi MI Pakis, Durenan, Trenggalek menggunakan konsep Adat Jawa.
Pelepasan siswa-siswi MI Pakis, Durenan, Trenggalek menggunakan konsep Adat Jawa.

LINTASJATIM.com, Trenggalek – Prosesi pelepasan siswa di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pakis, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, tampil berbeda dari biasanya. Sekolah tersebut menggelar purnawiyata dengan mengusung konsep budaya Jawa secara menyeluruh, mulai dari tata acara, busana, dekorasi, hingga penggunaan bahasa Jawa kuno (Kawi).

Suasana acara yang digelar layaknya prosesi adat Jawa itu bahkan membuat sejumlah warga mengira sedang berlangsung hajatan pernikahan. Penggunaan bahasa nyondro (prosa berbahasa Jawa) dan iringan gending Jawa menjadi daya tarik tersendiri dalam kegiatan tersebut.

Bacaan Lainnya

Salah seorang guru MI Pakis, Hamim Badromi, mengatakan konsep tersebut lahir dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap budaya Jawa.

Menurutnya, banyak kegiatan purnawiyata yang mengusung tema kejawen, namun hanya sebatas penggunaan pakaian atau dekorasi tanpa mengimplementasikan nilai budaya secara utuh.

“Kita sering melihat kegiatan purnawiyata yang menggunakan konsep kejawen, tetapi hanya sebatas busana atau dekorasi. Kami ingin menghadirkan konsep yang lebih menyeluruh,” ujar Hamim, Selasa (23/6/2026).

Guru Bahasa Daerah itu menjelaskan, MI Pakis sengaja menghadirkan unsur budaya Jawa dalam seluruh rangkaian acara sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus penguatan karakter peserta didik.

“Ini merupakan upaya untuk mengingatkan kembali masyarakat bahwa budaya Jawa memiliki nilai-nilai luhur yang patut dijaga dan diwariskan,” katanya.

Hamim mengaku belum mengetahui adanya sekolah lain di Trenggalek yang menerapkan konsep serupa dengan penggunaan bahasa Jawa kuno secara penuh dalam prosesi pelepasan siswa.

Selain sebagai upaya pelestarian budaya, konsep tersebut juga menjadi pesan bahwa budaya Jawa dan nilai-nilai Islam dapat berjalan beriringan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa syariat Islam dan budaya Jawa tidak bertentangan. Keduanya bisa saling menguatkan dalam kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Prosesi pelepasan semakin menyentuh saat sesi penyerahan siswa kepada orang tua dikemas dalam bentuk teatrikal. Para guru secara simbolis menyerahkan kembali peserta didik kepada orang tua setelah mendampingi mereka selama enam tahun menempuh pendidikan.

Momen paling haru terjadi ketika para siswa melakukan sungkeman kepada guru. Tangis pecah di antara siswa maupun para guru yang harus melepas anak didiknya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Tahun ini, MI Pakis meluluskan 27 siswa, sementara jenjang Raudhatul Athfal (RA) meluluskan 20 siswa.

Hamim berharap para lulusan tidak hanya bangga dengan identitas budaya Jawa, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai luhur seperti menghormati orang tua, menghargai sesama, dan menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

“Teruslah bangga dengan budaya sendiri. Agama adalah napas kehidupan kita, sedangkan budaya adalah identitas yang melekat dan harus dijaga,” pungkasnya.

Pos terkait