Kopi Argopuro Bondowoso: Menjaga Hutan, Menguatkan Petani

Kopi Rakyat Pegunungan Argopuro di Kabupaten Bondowoso.
Kopi Rakyat Pegunungan Argopuro di Kabupaten Bondowoso.

LINTASJATIM.com, Bondowoso – Di lereng timur Pegunungan Hyang Argopuro, kopi rakyat bukan sekadar komoditas pertanian. Bagi masyarakat setempat, kopi menjadi bagian dari kehidupan, budaya, sekaligus hubungan antara manusia dan lingkungan.

Namun, keberadaan kopi rakyat Argopuro kini menghadapi tantangan. Tekanan pasar mendorong petani meningkatkan produktivitas, sementara perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan eksploitasi sumber daya mengancam keberlanjutan ekosistem.

Bacaan Lainnya

Persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan melalui peningkatan penggunaan pupuk atau permainan harga. Dibutuhkan kemampuan manajerial yang tetap berakar pada kearifan lokal agar produktivitas, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan petani dapat berjalan beriringan.

Kopi dan Kelestarian Hutan

Selama puluhan tahun, petani kopi rakyat di kawasan Argopuro menerapkan pola tumpangsari. Tanaman kopi tumbuh di bawah naungan sengon, alpukat, serta pepohonan hutan.

Pola tersebut merupakan bagian dari sistem agroforestri yang memiliki manfaat ekologis. Kearifan lokal masyarakat tercermin dalam ungkapan, “Lemah tanpa wit-witan, banyu bakal ilang,” yang berarti tanah tanpa pepohonan akan kehilangan air.

Sistem tersebut membuat kebun kopi turut berperan dalam menjaga resapan air, mengurangi risiko longsor, sekaligus menjadi penyangga kawasan konservasi di sekitar Pegunungan Argopuro.

Selain memiliki fungsi ekologis, perkebunan kopi juga menjadi ruang interaksi sosial masyarakat. Kegiatan panen bersama, sistem bagi hasil, hingga arisan kelompok tani menjadi bagian dari kehidupan komunitas petani.

Namun, praktik tersebut belum sepenuhnya terdokumentasi dan dikelola menggunakan pendekatan bisnis. Kondisi itu dapat membuat petani memiliki posisi tawar yang lemah, mutu produk tidak konsisten, serta nilai tambah kopi lebih banyak dinikmati pihak di luar Bondowoso.

Manajemen Berbasis Kearifan Lokal

Keberlanjutan kopi rakyat tidak hanya berkaitan dengan tanaman yang tetap tumbuh. Keberlanjutan juga menyangkut keberlangsungan bisnis, ekosistem, dan komunitas petani.

Karena itu, kemampuan manajerial menjadi penting. Namun, penerapannya perlu menyesuaikan budaya dan pengetahuan lokal agar tidak justru menghilangkan karakter masyarakat petani.

Ada tiga aspek manajerial yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan kopi rakyat Argopuro.

Pertama, manajemen kebun berbasis kalender lokal.

Petani memiliki pengetahuan mengenai perubahan musim melalui tanda-tanda alam, seperti munculnya bunga dadap, arah angin, hingga suara burung. Pengetahuan tersebut dapat dipadukan dengan informasi iklim dari BMKG.

Perpaduan pengetahuan lokal dan data ilmiah dapat digunakan untuk menyusun standar operasional pemangkasan, pemupukan organik, hingga penentuan waktu panen. Dengan demikian, produktivitas dapat ditingkatkan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Kedua, manajemen mutu dan pemasaran berbasis kelompok.

Petani secara individu memiliki posisi tawar yang terbatas dalam menentukan harga. Sebaliknya, koperasi atau gabungan kelompok tani dengan ratusan anggota memiliki peluang lebih besar untuk memperkuat posisi tawar.

Penguatan manajemen dapat dilakukan melalui standardisasi pascapanen, mulai dari pemilihan buah matang atau petik merah, proses honey dan full wash, hingga cupping.

Dengan pengelolaan tersebut, kopi Argopuro berpeluang naik kelas dari produk kopi asalan menjadi kopi specialty yang memiliki identitas dan cerita, yakni kopi dari kawasan pegunungan dengan ekosistem yang harus dijaga.

Ketiga, manajemen ekologi dan warisan budaya.

Aspek lingkungan dan budaya juga dapat menjadi bagian dari pengelolaan bisnis kopi. Pemerintah desa dan BUMDes, misalnya, dapat mengembangkan skema kontribusi lingkungan dari aktivitas penjualan kopi.

Dana tersebut dapat dialokasikan untuk kegiatan reboisasi, sekolah lapang bagi petani, serta dokumentasi pengetahuan dan tradisi lokal. Dengan konsep tersebut, aktivitas ekonomi kopi sekaligus dapat berkontribusi terhadap upaya menjaga kelestarian Pegunungan Argopuro.

Tantangan Ada pada Pengelolaan

Tantangan pengembangan kopi rakyat tidak hanya berada di kebun, tetapi juga pada cara pandang terhadap manajemen. Sebagian masyarakat masih menganggap manajemen sebagai urusan perusahaan besar.

Padahal, pencatatan hasil panen, pembukuan kelompok, pengelolaan biaya produksi, hingga perjanjian harga merupakan bentuk manajemen sederhana yang dapat diterapkan petani.

Pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan BUMDes dapat mengambil peran sebagai fasilitator. Pendampingan diperlukan agar petani mampu menyusun rencana bisnis sederhana, mengakses sertifikasi, meningkatkan mutu produk, serta memanfaatkan pasar digital.

Kopi rakyat Hyang Argopuro memiliki tiga modal penting, yakni cerita, ekosistem, dan komunitas. Ketiganya dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola dengan kemampuan manajerial yang tetap menghormati kearifan lokal.

Dengan pendekatan tersebut, kopi tidak hanya menjadi sumber penghasilan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi model pengelolaan komoditas yang mampu menghidupi manusia tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Bondowoso tidak harus mengejar produksi kopi sebanyak-banyaknya. Yang lebih penting adalah membangun kopi yang berkelanjutan, bernilai tambah, dan mampu menjaga kehidupan masyarakat sekaligus ekosistem Argopuro.

Kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu. Jika dikelola dengan tepat, kearifan tersebut dapat menjadi fondasi manajemen untuk membawa kopi rakyat Bondowoso menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

Pos terkait