Jualan Daun Pisang, Ibu 4 Anak di Ponorogo Meninggal

Ibu meninggal di atas motor tinggalkan anak di Ponorogo. Sumber foto: www.detik.com
Ibu meninggal di atas motor tinggalkan anak di Ponorogo. Sumber foto: www.detik.com

LINTASJATIM.com, Ponorogo – Perjuangan Lu’lu Atunni’mah, warga Desa Jebeng, Kecamatan Slahung, Ponorogo, untuk membesarkan empat anaknya berakhir setelah ia meninggal dunia saat mengendarai sepeda motor pada Sabtu (17/10/2026).

Dikutip dari detikJatim.com, semasa hidup, Lu’lu dikenal sebagai sosok ibu tangguh yang bekerja keras menghidupi anak-anaknya seorang diri. Sejak suaminya, Syamsudin, meninggal sekitar dua tahun lalu, ia berjuang memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk dengan berjualan daun pisang.

Tetangga korban, Ahmad Iqdam Muslihudin, mengatakan Lu’lu merupakan perempuan yang tidak mudah menyerah meski harus menjalani kehidupan sebagai orang tua tunggal.

“Beliau pekerja keras. Saya tahu beliau sering mencari daun pisang di sekitar sini untuk dijual. Kebetulan ada warung makan di samping rumah saya yang membeli daun pisang itu, jadi beliau sering menyetor ke sana,” kata Ahmad, Selasa (20/10/2026).

Menurut Ahmad, Lu’lu memiliki empat anak laki-laki yang seluruhnya masih berusia sekolah. Tiga anaknya menempuh pendidikan di pesantren, sedangkan anak bungsunya belum genap berusia tiga tahun.

“Anaknya empat, laki-laki semua. Yang tiga masih sekolah di pesantren, sedangkan yang paling kecil usianya belum genap tiga tahun,” ujarnya.

Ahmad mengaku telah mengenal Lu’lu sejak perempuan itu masih kecil. Setelah lulus sekolah dasar, Lu’lu melanjutkan pendidikan ke MTs Darul Fatah, lembaga pendidikan yang dikelola keluarganya, sebelum meneruskan pendidikan ke Pondok Pesantren Darul Huda Mayak, Ponorogo.

Meski mendapat dukungan dari keluarga mendiang suaminya dan bantuan pemerintah, Lu’lu tetap berusaha memperoleh penghasilan sendiri. Ia mencari daun pisang di sekitar tempat tinggalnya untuk dijual demi mencukupi kebutuhan anak-anaknya.

Kepergian Lu’lu terjadi ketika ia hendak kembali ke bidan di Desa Gombang untuk mengobatkan anaknya. Sebelumnya, ia telah membawa anaknya berobat dan kemudian pulang.

Dalam perjalanan menuju bidan, Lu’lu merasa tubuhnya tidak enak. Ia kemudian menghentikan sepeda motor yang dikendarainya sambil membonceng anaknya. Namun, ia akhirnya meninggal dunia di atas kendaraan tersebut.

“Setahu saya, selama ini beliau tidak pernah mengeluh sakit kepada keluarga. Saat itu beliau mau kembali mengobatkan anaknya, tetapi di perjalanan merasa tidak enak badan,” tutur Ahmad.

Kini, keempat anak Lu’lu berada dalam pengasuhan keluarga. Kepergian ibu yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga tersebut menyisakan duka sekaligus tantangan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pendampingan keluarga diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keempat anak tersebut sekaligus memastikan pendidikan mereka tetap berlanjut setelah kehilangan kedua orang tuanya.

Pos terkait