LINTASJATIM.com, Surabaya – Sebanyak 395.707 jiwa di Jawa Timur terdampak kekeringan sepanjang 2026. Kondisi ini membuat pemerintah daerah masih harus memasok air bersih ke sejumlah wilayah meskipun hujan mulai turun di beberapa daerah.
Dikutip dari detikJatim.com, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menyampaikan bahwa distribusi air bersih telah menjangkau 27 kabupaten/kota dengan total volume mencapai 38.210.000 liter.
“Sebanyak 38.210.000 Liter air bersih telah disalurkan di 27 kabupaten/kota se-Jatim. Di mana air bersih tersebut ada yang berasal dari bantuan APBD Pemprov Jatim, APBD Pemkab/Pemkot serta CSR perusahaan swasta atau BUMD,” jelasnya.
Menurut Satriyo, bencana kekeringan tahun ini telah memengaruhi 35.831 kepala keluarga (KK) dengan perkiraan jumlah penduduk terdampak mencapai 395.707 orang.
Sementara itu, berdasarkan data terbaru BPBD Jatim, sebanyak 25 kabupaten/kota masih menetapkan status siaga darurat kekeringan.
Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Malang, Pasuruan, Situbondo, Sumenep, Mojokerto, Lumajang, Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Bangkalan, Blitar, Trenggalek, Gresik, Jember, Sampang, Tulungagung, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Jombang, Bojonegoro, Probolinggo, Pamekasan, Magetan, dan Kota Batu.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan, November masih menjadi puncak kekeringan di wilayahnya. Perubahan tersebut mengikuti revisi prakiraan BMKG yang sebelumnya memperkirakan puncak kekeringan terjadi pada September.
“Di beberapa tempat kita masih menemukan kelangkaan air bersih. Dropping air bersih masih dilakukan dengan pelibatan BPBD Provinsi Jawa Timur. Sebetulnya prediksi BMKG setelah direvisi, semula puncak kekeringan di bulan September, kemudian direvisi puncak kekeringan di bulan November untuk Jawa Timur,” kata Khofifah, Rabu (4/11/2026).
Ia memperkirakan hujan mulai berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Khofifah juga menyambut baik turunnya hujan di sejumlah wilayah setelah berbagai elemen masyarakat melakukan ikhtiar melalui doa bersama dan salat Istisqa di masjid maupun pesantren.
“Tentu harapan kita adalah hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” harapnya.
Di samping kekeringan, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga masih menjadi perhatian. Sejumlah daerah telah menetapkan status siaga atau tanggap darurat karhutla.
Wilayah tersebut meliputi Banyuwangi, Bangkalan, Lumajang, Kabupaten Pasuruan, Trenggalek, Kabupaten Malang, Jember, Kabupaten Mojokerto, Situbondo, Pacitan, Ponorogo, Kota Batu, Jombang, Kabupaten Probolinggo, dan Magetan.
Dengan masih tingginya dampak kekeringan, distribusi air bersih terus dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.





