Suheri di UIN KHAS Jember: Ilmu Harus Bermanfaat

Kuliah tamu Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN KHAS Jember.
Kuliah tamu Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN KHAS Jember.

LINTASJATIM.com, Jember – Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Bondowoso, Dr. Suheri, S.Pd.I., M.Pd.I., menegaskan bahwa penelitian ilmiah tidak cukup hanya menghasilkan publikasi di jurnal bereputasi, tetapi juga harus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemanfaatan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Suheri saat menjadi pemateri kuliah tamu Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Kamis (15/10/2026).

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Penunjang Lantai 1 Pascasarjana UIN KHAS Jember itu mengusung tema “Publishing in High-Impact Journals: Framing Research Novelty & Navigating Peer Review”.

Dalam kuliah tamu tersebut, Suheri membahas strategi membangun penelitian berkualitas dan mempersiapkan naskah untuk dipublikasikan di jurnal berdampak tinggi. Materi yang disampaikan meliputi identifikasi masalah penelitian, perumusan kontribusi ilmiah, pemilihan jurnal tujuan, hingga strategi merespons evaluasi reviewer.

Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan peneliti adalah membedakan research gap atau kesenjangan penelitian dengan research novelty atau kebaruan penelitian. Keduanya saling berkaitan, tetapi memiliki fungsi berbeda dalam membangun argumentasi ilmiah.

Menurut Suheri, research gap merujuk pada ruang pengetahuan yang belum terjelaskan atau persoalan yang belum terjawab secara memadai. Sementara itu, research novelty menunjukkan kontribusi baru yang ditawarkan penelitian untuk mengisi kesenjangan tersebut.

“Research gap tidak sama dengan research novelty. Research gap menunjukkan apa yang belum diketahui atau belum dijelaskan secara memadai, sedangkan novelty menunjukkan pengetahuan, metode, bukti, atau penjelasan baru yang ditawarkan penelitian,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa kebaruan penelitian tidak cukup ditunjukkan dengan memilih lokasi, lembaga, atau kelompok responden yang berbeda dari penelitian sebelumnya. Peneliti harus mampu menjelaskan kontribusi spesifik yang ditawarkan sekaligus menunjukkan relevansinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Karena itu, penelusuran literatur dan pemetaan penelitian terdahulu menjadi tahapan penting dalam penyusunan artikel ilmiah. Langkah tersebut membantu peneliti mengidentifikasi persoalan yang belum terselesaikan, mengevaluasi temuan sebelumnya, serta menyusun argumentasi kebaruan berdasarkan bukti akademik.

Selain substansi penelitian, Suheri mengingatkan pentingnya memilih jurnal yang sesuai dengan karakter dan tujuan penelitian. Naskah berkualitas belum tentu cocok untuk semua jurnal sehingga penulis perlu mencermati fokus dan cakupan jurnal, pedoman penulisan, karakteristik artikel yang diterbitkan, serta kebijakan etika dan biaya publikasi.

Menurutnya, pemilihan jurnal perlu direncanakan sejak awal agar proses publikasi lebih terarah, bukan sekadar dilakukan setelah naskah selesai ditulis.

Suheri juga menyoroti proses peer review atau penelaahan sejawat yang kerap menjadi tantangan bagi penulis. Dalam menghadapi masukan reviewer, peneliti perlu bersikap terbuka, memberikan argumentasi yang jelas, dan bersedia memperbaiki naskah.

Untuk menghadapi proses tersebut, ia memperkenalkan prinsip 3R, yakni Respect, Respond, dan Revise. Prinsip ini menekankan pentingnya menghargai masukan reviewer, menjawab setiap catatan secara jelas, serta melakukan revisi secara terukur sesuai dengan masukan yang relevan.

“Utamakan kontribusi, bukan semata peringkat jurnal atau tebalnya naskah,” tegasnya.

Ia menambahkan, kualitas publikasi tidak seharusnya hanya diukur dari reputasi jurnal tempat artikel diterbitkan. Kontribusi ilmiah, ketepatan metode, kekuatan bukti, dan integritas penelitian tetap menjadi fondasi utama karya akademik yang bermutu.

Dalam kesempatan itu, Suheri turut mengingatkan pentingnya menjaga etika publikasi. Peneliti harus menyajikan data secara jujur, menghormati hak cipta, serta memberikan pengakuan yang layak kepada semua pihak yang berkontribusi dalam penelitian.

Prinsip tersebut, menurutnya, merupakan bagian mendasar dari tanggung jawab akademik yang tidak boleh dikompromikan demi mengejar publikasi.

Di akhir pemaparan, Suheri, yang juga menjabat Ketua Dewan Pendidikan Bondowoso dan pernah menjadi Rektor Universitas At-Taqwa, mengajak peserta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar jalan untuk memperoleh pengakuan.

Ia mengibaratkan kebermanfaatan ilmu seperti sesuatu yang sederhana, tetapi dibutuhkan banyak orang.

“Tidak perlu jadi berlian yang mahal, tapi jadilah air yang tidak perlu mewah tapi bermanfaat,” ujarnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa prestasi akademik dan reputasi publikasi perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial. Ilmu pengetahuan tidak semestinya berhenti di halaman jurnal, tetapi harus mampu memperluas pemahaman, menjawab persoalan, dan memberikan kemaslahatan bagi kehidupan masyarakat.

Pos terkait