Siswa SDN Banyuajuh 3 Belajar Matematika ala Detektif

Siswa SDN Banyuajuh 3 Bangkalan Jadi “Detektif Cilik”, Belajar Matematika Sambil Pecahkan Masalah.
Siswa SDN Banyuajuh 3 Bangkalan Jadi “Detektif Cilik”, Belajar Matematika Sambil Pecahkan Masalah.

LINTASJATIM.com, Bangkalan – Pembelajaran Matematika di SDN Banyuajuh 3, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, berlangsung dengan cara berbeda pada Selasa (12/5/2026). Sebanyak 26 siswa kelas III diajak belajar layaknya detektif cilik yang memecahkan sebuah kasus.

Kegiatan tersebut melibatkan Muchamad Arif, M.Pd., mahasiswa Program Doktor (S3) Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sekaligus Dosen Program Studi Pendidikan Informatika Universitas Trunojoyo Madura (UTM), bersama Prof. Dr. Bachtiar Syaiful Bachri, M.Pd., dan Dr. Lamijan Hadi Susarno, M.Pd.

Bacaan Lainnya

Dalam kegiatan itu, Muchamad Arif mengembangkan dan menerapkan inovasi pembelajaran yang memadukan model Problem Based Learning (PBL), pembelajaran berdiferensiasi, dan deep learning atau Pembelajaran Mendalam.

Rohmad Basuki turut terlibat dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas III SDN Banyuajuh 3. Pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar aktif melalui persoalan yang mendorong siswa mengamati, berdiskusi, berpikir, dan menemukan solusi.

Melalui model PBL, siswa tidak sekadar menerima materi dari guru, tetapi dihadapkan pada persoalan yang harus dipecahkan. Mereka bekerja dalam kelompok untuk mengamati masalah, berdiskusi, menyampaikan pendapat, hingga menemukan solusi.

Pendekatan tersebut dipadukan dengan pembelajaran berdiferensiasi yang memberikan ruang bagi siswa untuk belajar sesuai kebutuhan dan karakteristik masing-masing. Siswa dapat memanfaatkan berbagai bentuk penyajian informasi, seperti gambar, teks, maupun aktivitas praktik.

Sementara itu, Pembelajaran Mendalam diterapkan untuk mendorong siswa memahami materi secara lebih bermakna. Siswa tidak hanya diarahkan memperoleh jawaban, tetapi juga menjelaskan alasan serta menghubungkan materi dengan pengalaman dan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana kelas terlihat lebih aktif. Para siswa berdiskusi dalam kelompok kecil, mengamati persoalan Matematika, dan saling menyampaikan pendapat untuk menemukan penyelesaian.

Salah seorang siswa mengaku lebih menikmati pembelajaran karena tidak hanya mendengarkan penjelasan guru.

“Aku suka belajar kayak gini, soalnya nggak cuma dengerin Bu Guru cerita, tapi kita ikut mikir dan nyari jawabannya sendiri bareng teman-teman,” ujarnya.

Siswa lainnya merasa terbantu dengan adanya pilihan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.

“Enak, soalnya kalau aku bingung baca tulisan, aku boleh lihat gambar dulu. Jadi nggak stres pas belajar,” tuturnya.

Guru pamong, Silvi, menilai perubahan terlihat dari keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat selama proses pembelajaran.

“Biasanya anak-anak itu pasif, takut salah kalau ngomong di depan kelas. Tapi begitu dikasih masalah yang dekat dengan kehidupan mereka, terus dibagi sesuai kemampuan masing-masing, mereka jadi lebih berani ngomong, berani salah, dan yang penting mau mencoba,” ungkapnya.

Menurut Silvi, pembelajaran berdiferensiasi juga memberikan kesempatan kepada siswa yang sebelumnya cenderung pasif untuk lebih terlibat dalam kegiatan kelompok.

“Anak yang biasanya diam di pojok, sekarang malah jadi salah satu yang paling aktif di kelompoknya. Ini bukti kalau setiap anak itu sebenarnya punya potensi, tinggal caranya saja yang perlu disesuaikan,” tambahnya.

Selama pembelajaran, terdapat sejumlah temuan yang menjadi catatan. Siswa yang sebelumnya cenderung pasif terlihat lebih terlibat ketika diberi kesempatan memilih media atau cara menyampaikan hasil diskusi, baik melalui gambar, cerita lisan, maupun tulisan sederhana.

Prinsip Pembelajaran Mendalam juga diarahkan agar siswa tidak berhenti pada kemampuan menemukan jawaban. Mereka didorong memahami alasan di balik jawaban dan mengaitkan materi dengan pengalaman yang dimiliki.

Meski demikian, penerapan pembelajaran tersebut memiliki sejumlah tantangan. Pengelolaan waktu menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar diskusi kelompok tetap terarah sesuai tujuan pembelajaran.

Selain itu, instrumen penilaian perlu dirancang secara tepat agar dapat mengakomodasi keberagaman cara siswa dalam menunjukkan pemahamannya.

Muchamad Arif mengatakan, penerapan PBL yang dipadukan dengan pembelajaran berdiferensiasi dan Pembelajaran Mendalam merupakan salah satu upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa.

Menurutnya, pembelajaran tidak harus selalu dirancang dengan cara seragam untuk seluruh siswa. Karakteristik, kebutuhan, dan kesiapan belajar perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi pembelajaran.

Evaluasi pelaksanaan pembelajaran juga menjadi bagian penting untuk pengembangan kegiatan selanjutnya. Dokumentasi proses belajar siswa secara sistematis diperlukan agar perkembangan pemahaman mereka dapat dipantau dengan lebih baik.

Kepala SDN Banyuajuh 3, Suwadi, S.Pd., menyambut positif pelaksanaan pembelajaran tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dapat menjadi ruang untuk melahirkan berbagai inovasi pembelajaran.

“Kami menyambut baik kegiatan seperti ini. Penerapan model PBL yang dipadukan dengan pembelajaran berdiferensiasi dan deep learning terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran, terutama membuat siswa lebih aktif dan berani berpikir kritis, tidak hanya sekadar menerima materi,” ujar Suwadi.

Ia berharap pengalaman selama kegiatan dapat menjadi referensi bagi guru untuk terus mengembangkan proses belajar di kelas.

“Ini juga jadi pemantik semangat bagi guru-guru kami untuk terus berinovasi. Harapannya, apa yang sudah diterapkan oleh mahasiswa PPL ini bisa menjadi referensi dan terus dikembangkan oleh guru-guru di sini, bukan hanya berhenti saat kegiatan PPL selesai,” tambahnya.

Pembelajaran di SDN Banyuajuh 3 menunjukkan bahwa Matematika dapat dikemas melalui persoalan yang mendorong siswa berpikir, berdiskusi, dan mencari solusi bersama.

Perpaduan PBL, pembelajaran berdiferensiasi, dan Pembelajaran Mendalam memberikan ruang bagi siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.

Pos terkait