LINTASJATIM.com, Bondowoso – Mahasiswa KKN Universitas Bondowoso Posko 3 Desa Jebung Lor mengajak masyarakat memperkuat kesadaran berdemokrasi melalui Dialog Interaktif Pendidikan Pemilih bertema ‘Penguatan Integritas Demokrasi Melalui Pendidikan Kepemiluan’.
Kegiatan tersebut digelar melalui kolaborasi dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), akademisi hukum, dan Pemerintah Desa Jebung Lor.
Dialog itu menjadi ruang edukasi bagi masyarakat agar tidak hanya menggunakan hak pilih, tetapi juga memahami pentingnya menentukan pilihan secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
Tiga narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Andre Yulianto dari KPU, Ahmad Zairudin, S.H., M.H. dari Bawaslu, serta akademisi hukum Ach. Abrori, S.H., M.H.
Pembahasan berlangsung secara interaktif dengan mengangkat sejumlah persoalan kepemiluan, pengawasan pemilu, serta tantangan yang dapat memengaruhi kualitas demokrasi.
Dari perspektif kepemiluan, masyarakat didorong meningkatkan literasi agar mampu memperoleh dan menggunakan informasi yang benar sebelum menentukan pilihan.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan memilah fakta menjadi semakin penting. Informasi mengenai tahapan pemilu, calon, maupun isu politik perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum dipercaya dan disebarluaskan.
Sementara itu, Bawaslu menyoroti politik uang dan penyebaran informasi bohong atau hoaks sebagai persoalan yang berpotensi mengganggu integritas demokrasi.
Masyarakat juga didorong tidak bersikap pasif ketika menemukan dugaan pelanggaran. Pengawasan pemilu bukan hanya tanggung jawab lembaga pengawas, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari kontrol publik.
Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya melaporkan dugaan pelanggaran melalui mekanisme yang tersedia apabila menemukan praktik yang berpotensi mencederai proses demokrasi.
Pada sesi akademik, Ach. Abrori mengajak masyarakat memandang pilihan politik secara lebih kritis. Pilihan tidak semestinya ditentukan hanya berdasarkan keuntungan sesaat, tekanan lingkungan, atau janji yang belum teruji.
Rekam jejak, integritas, kapasitas, dan gagasan calon menjadi sejumlah aspek yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan pilihan.
Sebab, suara dalam pemilu bukan sekadar tanda pada surat suara, melainkan bentuk kepercayaan masyarakat yang turut menentukan arah kepemimpinan.
Dialog tersebut juga menegaskan bahwa demokrasi yang sehat tidak hanya dibangun ketika masyarakat datang ke tempat pemungutan suara. Demokrasi membutuhkan proses panjang melalui akses terhadap informasi yang benar, kemampuan berpikir kritis, keberanian mengawasi, serta penolakan terhadap praktik yang merusak integritas pemilu.
Bagi Mahasiswa KKN Universitas Bondowoso Posko 3 Desa Jebung Lor, kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah untuk membangun budaya politik yang lebih dewasa di tengah masyarakat.
Peningkatan literasi kepemiluan diharapkan membuat masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan maupun praktik politik transaksional.
Pada akhirnya, kualitas demokrasi sangat dipengaruhi oleh kualitas pemilihnya. Pemilih yang cerdas tidak menjual suaranya, pemilih kritis tidak mudah terpengaruh hoaks, dan pemilih berintegritas tidak menukar masa depan dengan kepentingan sesaat. (Rif)






