LINTASJATIM.com, Mojokerto – Kepolisian masih mendalami penyebab ledakan yang terjadi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Puri Medali, Kabupaten Mojokerto. Hingga saat ini, penyelidik belum menemukan indikasi tindak pidana dalam insiden yang menewaskan satu teknisi dan melukai empat orang lainnya tersebut.
Dikutip dari detikJatim.com, Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata mengatakan proses penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan apakah terdapat unsur kesengajaan yang menjadi pemicu ledakan dan kebakaran di fasilitas penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) itu.
“Kami melakukan pendalaman untuk betul-betul memastikan ada tindak pidana apa tidak dalam kebakaran itu, unsur sengajanya ada atau tidak, lebih ke situ,” kata Andi, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, penyelidikan dilakukan melalui olah tempat kejadian perkara (TKP) yang melibatkan Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Timur dan Inafis Satreskrim Polres Mojokerto. Hasil pemeriksaan forensik tersebut masih ditunggu sebagai bahan analisis penyebab pasti ledakan.
“Mereka yang bekerja untuk mengidentifikasi penyebab kebakaran dan lain sebagainya. Hasilnya belum dikasih ke kami,” ujarnya.
Selain pemeriksaan teknis, polisi juga mengumpulkan informasi dari sejumlah saksi di lokasi kejadian. Namun, hingga kini belum ada pihak yang dipanggil secara resmi untuk dimintai keterangan di kantor kepolisian.
“Belum ada yang kami mintai keterangan dengan mengundang. Semua penyelidikan di lapangan,” tutur Andi.
Ia menegaskan, berdasarkan hasil sementara, penyidik belum menemukan dugaan pelanggaran hukum yang mengarah pada tindak pidana.
“Sampai saat ini masih belum menemukan ada dugaan tindak pidana,” tegasnya.
Ledakan terjadi pada Kamis (13/8/2026) sekitar pukul 21.00 WIB saat tiga teknisi dari PT Energi Alam Utama melakukan perbaikan instalasi gas elpiji. Ketiganya mengalami luka bakar serius, yakni Piter Nando (36) dengan luka bakar sekitar 63 persen, Kwin Lan (48) sekitar 45 persen, dan Edi Suyanto (55) sekitar 90 persen.
Edi Suyanto akhirnya meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD dr Soetomo Surabaya pada Kamis pagi. Jenazah warga Dusun Kalijaring, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis itu telah dimakamkan di kampung halamannya dengan dihadiri keluarga dan kerabat yang berduka.
Kapolres menyebut informasi awal yang diterima menunjukkan para teknisi tengah menangani gangguan pada sistem gas di SPPG tersebut.
“Yang saya dapat info mereka melakukan perbaikan. Infonya ada permintaan dari SPPG-nya karena ada masalah gas. Itu yang secara umum saya terima laporannya,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Mojokerto Teguh Gunarko menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya salah satu korban. Ia berharap peristiwa tersebut menjadi evaluasi bagi pengelola program MBG agar standar keselamatan kerja semakin diperketat.
“Ke depan jangan sampai kejadian ini terulang kembali, termasuk untuk SPPG lainnya,” kata Teguh.
Ledakan hebat yang disusul kebakaran itu menyebabkan kerusakan cukup parah. Atap empat ruangan, yakni ruang pemorsian, ruang omprengan, kantor, dan ruang rapat dilaporkan ambruk. Api juga membakar sebagian bangunan hingga akhirnya berhasil dipadamkan petugas pemadam kebakaran sekitar pukul 22.30 WIB.
Selain tiga teknisi yang mengalami luka bakar, dua relawan SPPG turut terluka akibat tertimpa plafon yang runtuh saat ledakan terjadi. Pascainsiden, distribusi sekitar 3.700 porsi MBG per hari yang sebelumnya ditangani SPPG Puri Medali dialihkan sementara ke SPPG lain di wilayah sekitar.






