LINTASJATIM.com, Bondowoso – Kelurahan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menggelar tasyakuran, selamatan desa, dan doa bersama dalam tradisi sedekah bumi, Jumat (14/8/2026).
Kegiatan yang diikuti ratusan warga itu berlangsung khidmat. Selain menjadi ungkapan syukur atas kemerdekaan, sedekah bumi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi dan melestarikan tradisi yang telah mengakar di tengah masyarakat.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, sambutan, pembacaan sejarah Kelurahan Curahdami, dilanjutkan tahlil, doa bersama, hingga makan bersama.
Lurah Curahdami, Kusnadi, S.Sos., M.M., mengatakan sedekah bumi merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas nikmat kemerdekaan dan melimpahnya sumber daya alam di wilayahnya.
“Kegiatan ini merupakan tasyakuran dan selamatan Kelurahan Curahdami dengan konsep sedekah bumi. Ini menjadi bentuk syukur kami atas rahmat Allah SWT, baik atas kemerdekaan Republik Indonesia maupun anugerah sumber daya alam yang melimpah di Curahdami,” ujarnya.
Menurut Kusnadi, tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi sarana memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Ketua panitia, Junaidi, mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat. Ia mengaku bangga karena warga tetap antusias mengikuti kegiatan meski persiapannya dilakukan dalam waktu singkat.
“Saya sangat puas dengan antusiasme warga. Semoga kegiatan budaya seperti ini terus dilestarikan dan menjadi tradisi yang berkembang di Curahdami,” katanya.
Suasana hangat juga terasa dengan kehadiran kembali mahasiswa KKN Posko 54 UIN KHAS Jember. Meski masa pengabdian mereka telah berakhir, para mahasiswa memilih kembali untuk mengikuti sedekah bumi bersama warga.
Koordinator Desa KKN Posko 54, Dani Maulana, menyebut Curahdami telah menjadi bagian dari perjalanan yang meninggalkan ikatan kekeluargaan.
“Selama 40 hari kami menemukan arti kekeluargaan yang tak sedarah. Curahdami bukan hanya tempat mengabdi, tetapi juga tempat yang memberi banyak kenangan,” ungkapnya.
Kehadiran mahasiswa tersebut menjadi bukti bahwa pengabdian masyarakat dapat melahirkan hubungan sosial yang tetap terjaga, bahkan setelah program KKN selesai.
Bagi warga Curahdami, sedekah bumi bukan sekadar ritual tahunan. Tradisi ini menjadi ruang kebersamaan yang menyatukan pemerintah kelurahan, masyarakat, dan generasi muda dalam semangat gotong royong serta rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia. (Rif)





