Yudisium FKIP UNUSIDA Cetak Pendidik Berkarakter

Yudisium FKIP UNUSIDA 2026.
Yudisium FKIP UNUSIDA 2026.

LINTASJATIM.com, Sidoarjo – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Yudisium ke-11 di Graha Delta Sekretariat Daerah Kabupaten Sidoarjo, Rabu (5/8/2026). Mengusung tema ‘Mencetak Pendidik yang Berkarakter, Inovatif, dan Adaptif untuk Mewujudkan Pendidikan yang Berdampak’, kegiatan ini menjadi penegasan komitmen UNUSIDA dalam melahirkan pendidik yang kompeten dan berintegritas.

Sebanyak 171 mahasiswa resmi diyudisium, terdiri atas 23 lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dan 148 lulusan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Para lulusan berasal dari angkatan 2019, 2020, 2021, dan 2022 yang telah menyelesaikan studi pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.

Bacaan Lainnya

Prosesi yudisium menjadi penanda berakhirnya masa studi sekaligus awal pengabdian para lulusan dalam dunia pendidikan maupun berbagai bidang profesi lainnya.

Hadir dalam acara tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo, Dr. Fenny Apridawati, S.H., M.M., yang mengapresiasi kontribusi UNUSIDA dalam mendukung pembangunan daerah melalui sektor pendidikan.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab kebutuhan masyarakat melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah.

“UNUSIDA harus mampu membaca kebutuhan masyarakat dan terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah. Perguruan tinggi diharapkan dapat mendukung berbagai kebijakan dan program pemerintah, sekaligus memberikan masukan yang tepat guna demi kemajuan masyarakat,” ujar Fenny, yang juga merupakan pengurus Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Sidoarjo.

Sementara itu, Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNUSIDA, Drs. H. Arli Fauzi, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa profesi guru merupakan panggilan pengabdian yang membutuhkan ketulusan, dedikasi, dan tanggung jawab moral.

“Seorang guru adalah profesi yang paling mulia. Mengajar bukan hanya melihat siswa dari sisi ketaatan atau kepatuhan, tetapi menerima mereka sebagai manusia seutuhnya. Di situlah letak amal jariyah seorang pendidik,” katanya.

Arli juga mengingatkan bahwa lulusan program kependidikan memiliki peluang karier yang luas dan tidak terbatas pada profesi guru.

“Ijazah pendidikan tidak selalu berarti harus menjadi guru. Banyak bidang lain yang bisa ditekuni sesuai potensi masing-masing. Itu merupakan bagian dari ikhtiar menuju kesuksesan,” tambahnya.

Dekan FKIP UNUSIDA, Muawwinatul Laili, S.S., M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya yudisium yang diikuti 171 lulusan. Ia berharap momentum tersebut menjadi awal perjalanan pengabdian yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, FKIP UNUSIDA berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, kemampuan beradaptasi, serta semangat inovasi. Hal itu selaras dengan visi UNUSIDA dalam melahirkan sumber daya manusia yang profesional, berakhlakul karimah, dan siap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Muawwinatul Laili, yang akrab disapa Wiwin, menegaskan bahwa tema yudisium tahun ini menekankan tiga kompetensi utama yang harus dimiliki calon pendidik, yakni berkarakter, inovatif, dan adaptif.

“Jadilah pendidik yang memiliki karakter positif, mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta terus menghadirkan inovasi dalam proses pembelajaran,” pesannya.

Ia menambahkan, seluruh kompetensi tersebut harus dibangun di atas fondasi akhlakul karimah yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

“Jadilah pendidik yang berakhlakul karimah dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran. Akhlak menjadi fondasi utama yang harus dimiliki setiap lulusan FKIP UNUSIDA,” tegasnya.

Wiwin juga mengingatkan bahwa seorang pendidik merupakan teladan bagi peserta didik. Oleh karena itu, setiap sikap, ucapan, dan tindakan akan menjadi contoh yang memengaruhi proses pendidikan.

“Mulai hari ini, apa yang kalian lakukan akan menjadi contoh bagi peserta didik. Jadikan seluruh proses selama kuliah sebagai pengalaman positif yang dapat dibanggakan dan diceritakan kepada generasi berikutnya,” tutupnya.

Pos terkait