LINTASJATIM.com, Jember – Menjelang pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, dinamika mengenai figur yang dinilai layak memimpin organisasi terus menjadi perhatian warga Nahdliyin.
Selain di lingkungan pesantren dan tokoh NU, aspirasi juga mengalir dari kalangan muda hingga masyarakat desa yang menginginkan kepemimpinan yang mampu menjaga tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman.
Perhatian tersebut tercermin dalam hasil polling publik yang diikuti 11.108 responden. Dalam jajak pendapat tersebut, KH Badrud Tamam, M.H.I. atau Gus Tamam memperoleh 6.530 suara (58,8 persen), unggul atas kandidat lainnya.
Posisi kedua ditempati K. Robith Qoshidi, Lc. dengan 2.239 suara (20,2 persen), disusul Dr. H. Abdul Hadi dengan 1.720 suara (15,5 persen). Selanjutnya, Prof. Ahmad Taufiq, M.Pd. memperoleh 369 suara (3,4 persen), Prof. Dr. H. Babun Suharto meraih 106 suara (1 persen), Dr. Achmad Fathor Rosyid, M.Si. mendapatkan 90 suara (0,9 persen), dan Dr. Abd. Hamid Pujiono, M.Ag. memperoleh 54 suara (0,5 persen).
Meski bukan bagian dari mekanisme resmi pemilihan Ketua PCNU Jember, tingginya jumlah responden menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap arah kepemimpinan organisasi Nahdlatul Ulama di Jember.
Sejumlah warga Nahdliyin menilai menguatnya dukungan terhadap Gus Tamam tidak terlepas dari rekam jejaknya di dunia pesantren, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia dikenal aktif membina santri, dekat dengan masyarakat, serta konsisten memperkuat tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah.
Dukungan juga datang dari kalangan kader muda NU. Jakfar Ashodiqi menilai Gus Tamam memiliki kapasitas untuk membawa organisasi semakin maju tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Nahdlatul Ulama.
“Saya mendukung penuh Gus Tamam. Beliau memiliki kapasitas keilmuan yang kuat, memahami tradisi pesantren, dan mampu membangun komunikasi dengan berbagai kalangan. Saya optimistis beliau dapat membawa PCNU Jember semakin berkembang dengan tetap menjaga nilai-nilai perjuangan para masyayikh,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Sementara itu, Muhammad Latif, warga di kawasan perbatasan Jember-Bondowoso, menilai NU membutuhkan sosok pemimpin yang dekat dengan masyarakat hingga tingkat akar rumput.
“Karakter Gus Tamam sangat cocok untuk memimpin. Beliau dikenal sederhana, mudah bergaul dengan masyarakat, mau mendengarkan aspirasi, dan tidak membedakan kalangan. Kami di desa membutuhkan pemimpin NU yang tetap hadir bersama masyarakat, bukan hanya hadir dalam acara-acara resmi,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Ifan Firdaus, tokoh muda lulusan pesantren. Menurutnya, salah satu keunggulan Gus Tamam adalah kepemimpinannya yang mengedepankan keteladanan.
“Yang saya kagumi dari Gus Tamam, beliau bukan tipe pemimpin yang hanya memberikan arahan dari belakang meja. Beliau terbiasa turun langsung ke lapangan, ikut bekerja bersama santri dan masyarakat. Keteladanan seperti itulah yang membuat banyak orang menaruh hormat kepada beliau,” ungkapnya.
Sejumlah pemerhati organisasi menilai aspirasi yang berkembang menunjukkan warga Nahdliyin tidak hanya mempertimbangkan kemampuan administratif seorang calon pemimpin. Integritas, rekam jejak pengabdian, kedekatan dengan masyarakat, serta komitmen terhadap pendidikan dan kaderisasi juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik.
Tingginya dukungan dalam polling publik menjadi salah satu indikator besarnya perhatian masyarakat terhadap sosok Gus Tamam. Namun demikian, pemilihan Ketua PCNU Jember tetap akan dilaksanakan melalui mekanisme organisasi sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama.
Polling tersebut tidak menentukan hasil Konfercab, melainkan hanya menggambarkan preferensi sebagian masyarakat yang mengikuti dinamika kepemimpinan PCNU Jember.
Di tengah harapan lahirnya kepemimpinan yang mampu menjaga marwah organisasi sekaligus memperkuat peran NU dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat, berbagai aspirasi yang berkembang menjadi bagian dari dinamika menjelang Konfercab.





