LINTASJATIM.com, Trenggalek – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Panggul, Kabupaten Trenggalek, terus mengintensifkan penggalangan dana untuk pembangunan Graha NU Spirit Panggul. Proyek tersebut membutuhkan anggaran sekitar Rp1,5 miliar yang akan digunakan untuk pembebasan lahan sekaligus pembangunan gedung sebagai pusat kegiatan organisasi dan pelayanan masyarakat.
Ketua Panitia Pembangunan Graha NU Spirit Panggul, Eko Margono, mengatakan sosialisasi telah dilakukan hingga tingkat ranting (desa) guna menyatukan persepsi dan membangun semangat gotong royong warga Nahdliyin.
“Alhamdulillah, sosialisasi secara menyeluruh sudah kami lakukan bersama jajaran pengurus ranting, termasuk unsur Syuriyah hingga Mustasyar,” ujar Eko, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, berdasarkan kesepakatan bersama, setiap ranting akan menghimpun dana swadaya masyarakat dengan estimasi iuran sebesar Rp50 ribu per kepala keluarga (KK).
Melalui skema gotong royong tersebut, panitia optimistis kebutuhan dana sebesar Rp1,5 miliar untuk pembelian lahan dan bangunan seluas sekitar 1.025 meter persegi dapat terpenuhi.
Eko yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa Wonocoyo menjelaskan, panitia telah menyerahkan uang muka (down payment) sebesar Rp300 juta kepada pemilik lahan.
Dengan demikian, masih terdapat kekurangan dana sekitar Rp1,2 miliar yang harus dilunasi secara bertahap sesuai kesepakatan.
“Sesuai perjanjian, kami harus mencicil Rp200 juta setiap tiga bulan, dengan target pelunasan pada Maret 2027. Karena itu, kami terus mendorong seluruh ranting agar bergerak cepat dan konsisten dalam menghimpun dana,” jelasnya.
Eko menuturkan, lokasi yang akan dijadikan Graha NU Spirit Panggul sebelumnya merupakan kawasan pertokoan. Bangunan yang ada nantinya akan direnovasi secara menyeluruh dan disesuaikan dengan kebutuhan organisasi serta pelayanan kepada masyarakat.
Graha NU Spirit Panggul direncanakan dilengkapi berbagai fasilitas, antara lain mushala, aula untuk rapat dan konsolidasi, kantor sekretariat seluruh badan otonom (Banom) dan lembaga di bawah MWCNU Panggul, NU Mart, area rest area, hingga penginapan bagi musafir maupun tamu NU dari luar daerah.
“Graha NU Spirit Panggul kami proyeksikan menjadi pusat pelayanan sosial dan kemanusiaan, bukan hanya untuk kegiatan internal organisasi,” katanya.
Menurut Eko, hasil pemetaan di lapangan menunjukkan masih banyak masyarakat yang membutuhkan pendampingan, baik untuk mengakses layanan kesehatan maupun bantuan biaya pengobatan.
“Harapan kami, gedung ini menjadi pusat kemanfaatan yang lebih luas. Tidak hanya bagi warga Nahdliyin, tetapi juga masyarakat umum tanpa memandang latar belakang, karena yang kami perjuangkan adalah nilai-nilai sosial dan kemanusiaan,” ujarnya.
Di sisi lain, Eko mengakui kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih menjadi tantangan dalam penggalangan dana. Meski demikian, panitia tetap optimistis target dapat tercapai.
Ia pun mengajak masyarakat dan para dermawan untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan Graha NU Spirit Panggul.
“Kami membuka kesempatan seluas-luasnya bagi para dermawan yang ingin ikut berkontribusi. Donasi dapat disalurkan melalui rekening resmi sebagaimana tercantum dalam flyer yang telah kami sebarkan,” pungkasnya.





