Berbagi Kasih, Fatayat NU Kabupaten Madiun Santuni Anak Yatim

Santunan Anak Yatim Fatayat NU Kabupaten Madiun
Santunan Anak Yatim Fatayat NU Kabupaten Madiun

LINTASJATIM.com, Madiun – Pandemi tidak menyurutkan semangat Fatayat NU Kabupaten Madiun dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1443 Hijriyah. Yakni dengan menggelar santunan anak yatim tanggal 10 – 11 Muharram atau 19 – 20 Agustus 2021 pada Kamis (19/8/2021).

Kegiatan dikemas dengan berbagi cinta kasih Fatayat NU Kabupaten Madiun itu dihadiri oleh Hj. Dra Aisyah Lilia Agustini, M.Si Anggota DPRD Provinsi jawa Timur. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung NU Center Kabupaten Madiun.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Neng Icha mengajak untuk melestarikan tradisi yang sangat baik yaitu memberi perhatian lebih pada anak yatim. Selama pandemi jumlah anak yatim meningkat, banyak anak yang orang tuanya meninggal baik karena Covid maupun sebab lainnya.

“Jumlah anak yatim menjadi fokus kita bersama. Yang sudah meninggal kita doakan, yang ditinggal kita perhatikan,” ungkap Neng Icha. Menengok sejarah orang hebat yang ditulis Michael Hart, kita sedikit punya optimisme, ada sedikit hiburan bahwa banyak anak yatim yang sukses dalam menjalani kesendiriannya. Nabi Muhammad, yang ditempatkan sebagai orang nomor wahid oleh Harta, adalah anak yatim,” tandasnya.

“Posisi kedua, Nabi Isa, malah tidak tahu siapa ayahnya. Nabi Isa sudah yatim sebelum Siti Maryam mengandung. Jika tidak salah ingat, tiga orang yang menempati urutan ketiga, keempat, dan kempat, juga ada yang menyandang status yatim. Saya lupa, Isaac Newton atau siapa. Coba yang punya bukunya dibaca lagi,” tambahnya.

Neng Icha juga menyebut beberapa tokoh di Indonesia yang terlahir sebagai anak yatim. “Kita tahu, Gus Dur juga anak yatim. Ketika Kiai Wahid wafat di umur 39, Gus Dur yg anak sulung belum balig, apalagi adiknya, Gus Sholah, Gus Umur, Bu Aisyah, Bu Lily. Gus Im, masih di kandungan ketika itu,” ungkap Neng Icha.

Neng Icha tidak tahu persis mengapa mereka bisa sukses menjalani hidup sebagai anak yatim. Namun, dirinya yakin mereka bukan saja berhasil mengatasi persoalan ekonomi. Pasti ada faktor-faktor lain yang bisa mendorong mereka menjadi sukses.

“Menurut saya ada lingkungan yang mendukung para anak yatim tetap tumbuh, terutama keluarga besarnya. Ada perhatian yang bukan saja dari sisi ekonomi. Di luar itu semua, Gusti Allah menjaga dengan kemahaan Rahman dan Rahimnya,” ungkapnya.

Menjadi anak yatim memang tidak ringan karena hidup sendiri dan berat. Namun, para anak yatim jangan berkecil hati, harus tetap bersemangat membangun harapan dalam meraih cita-cita.

Pos terkait